Kamis, 05 Februari 2015

Dua Lima

Aku sedang menebak-nebak, kira-kira prosesi apa yang tengah kamu siapkan. Kamu selalu tergila-gila berprosesi. Segala sesuatu harus dihantarkan dengan sempurna dan terencana. Perayaan dan peringatan menyesaki kalender kita sepanjang tahun, dan tidak pernah kamu bosan, bahkan kamu semakin ahli. Malam ini kamu menantangku berhitung dengan stop-watch. Teleponku akan berdering tepat setengah jam lagi. Sesungguhnya, kamu sudah sehebat itu. Janjimu adalah matahariku yang terbit dan terbenam tanpa pernah keliru. 
Sambil menunggu, izinkan aku berkelakar mengenai kamu dan sayap. Sejak kepindahanku ke negara lain, kamu terobsesi dengan segala makhluk bersayap. Kamu percaya bahwa manusia bersayap adalah hibrida termulia, di atas manusia bersirip dan berinsang. Aku ingin percaya kamu cukup cerdas untuk tidak mencoba terbang kemari. Kalaupun itu bisa terjadi, aku khawatir kamu mati lemas di jalan lalu jatuh ke laut. Dimakan hiu. Dan jadilah kalian hibrida yang luar biasa. Manusia bersayap di dalam perut mahluk bersirip berinsang. 
Dengan caramu mengagungkan momentum, kamu membuatku ikut percaya betapa sakralnya peluk cium 14 februari atau tiupan terompet tahun baru yang jatuh tepat pada hitungan 00:00. Kamu membuatku percaya ada poin tambahan jika mempelakukan hidup seperti arena balap lari. Namun imanku pada arena itu luruh dalam satu malam karena kegagalanmu mencapai garis finish. Lihatlah detik itu, jarum jam itu, momentum yang tak lagi berarti di detik pertama kamu gagal mengucapkan apa yang harusnya kamu ucapkan... Lima menit yang lalu...
Aku tidak tahu kemalangan jenis apa yang menimpa kamu, tapi aku ingin percaya ada insiden yang cukup dahsyat di dunia serba selular ini hingga kamu tidak bisa menghubungiku. Mungkinkah matahari lupa ingatan lalu keasyikan terbenam atau terlambat terbit? Bahkan kiamat pun hanya bicara soal arah yang terbalik, bukan soal perubahan jadwal. Atau mungkinkah ini akan jadi salah satu tanda kiamat kecil yang orang ramai gunjingkan, tentang lelaki berbaju perempuan, perempuan berbaju lelaki, lelaki bercinta dengan lelaki, dan perempuan bercinta dengan perempuan, dan kalau mereka mau menengok sejarah manusia ribuan tahun terakhir ini, tidakkah tanda semacam itu sudah apkir, klise, dan kiamat harus menyiapkan tanda-tanda baru bila masih ingin jadi hari yang paling diantisipasi, dengan misalnya, mengadopsi absurditas yang terjadi malam ini? Malam di mana kamu terlambat mengucapkan apa yang seharusnya kamu ucapkan... Satu jam yang lalu...
Satu waktu nanti, saat kamu berhenti percaya manusia bisa punya sayap selain lempeng besi yang didorong mesin jet, saat kamu berhenti percaya hidup lebih bermakna bila ada wasit menyalakkan aba-aba "1,2,3", kamu boleh terus percaya bahwa kemarin ... besok ... lusa ... dan hari-hari sesudah itu... Aku masih di sini. Menunggu kamu mengucapkan apa yang harusnya kamu ucapkan... Berjam-jam yang lalu:
"Selamat ulang tahun."
(Dee, Rectoverso)

4 blabla(s):

Ushie Cewekhujan mengatakan...

Happy born day uda Hans blogger terfenomenal sejagat raya, semoga di usia yang baru uda semakin bahagia yah..aamiin...

Salam rindu, semoga nanti bisa bertemu lagi... :)

Lita mengatakan...

Speechless. It's so romantic. happy birthday, ya, Hans.

Hans Febrian mengatakan...

ushie: aaa, terimakasih ushie ;) semoga bisa ketemu lagi ya.

lita: thank you lita! yup, my favorite in Rectoverso after hanya isyarat ;)

George Dewillyam mengatakan...

Ya Tuhan, sorry kak Hans...*peace...
Saya lupa ngucapin ya......
Yaudah deh, biarpun telat...
Happy Birthday ya.....
Kakakku tambah tua...
Wkwkwkwkwkkk

 

Blog Template by