Sabtu, 14 Februari 2015

Vietnam: a Chaotic Day in Ho Chi Minh City (1)

HCMC from above
Akhirnya pesawat yang saya tumpangi mendarat dengan mulus di Tan Son Nhat International Airport, setelah drama bolak-balik ke konter Air Asia buat ngurus formulir imigrasi saya yang hilang di Bangkok. I was so excited, it’s the first time for me to explore Vietnam. Saya langsung mengantri di konter imigrasi buat pemegang asean passport sambil celingukan nyariin temen-temen saya udah nyampe atau belum. Begitu melihat petugas-petugas imigrasinya, kebiasaan buruk saya kumat. Saya mulai ngebanding-bandingin petugas imigrasi Vietnam dengan Thailand. Kalo di Thailand petugas imigrasinya rata-rata masih muda, cakep dan memakai seragam fit yang ngepas di badan. Beda banget sama Vietnam. Petugas imigrasinya rata-rata udah tua dan memakai seragam gombrong yang ukurannya bisa dipake dua orang *jahat*.  Prosesnya berjalan lancar, nggak ditanya apa-apa langsung cap dan saya duduk di bangku di belakang konter imigrasi nungguin teman-teman saya yang belum nyampe.
Beberapa saat kemudian pesawat Vietjet yang ditumpangi teman-teman saya juga mendarat di Ho Chi Minh City. Kita langsung ke ATM terdekat untuk ngambil duit dan langsung keluar. Sesuai MOU, di Vietnam saya yang jadi kepala rombongan. Tujuan awal kita adalah menuju Ben Tahn Market, kemudian jalan kaki ke Pham Ngu Lao street, di distrik 1. Ada beberapa pilihan sebenarnya untuk mencapai kawasan pusat backpacker ini. Pertama, paling simpel ya naik taksi. Perlu diketahui bahwa di Ho Chi Minh cuma ada dua taksi yang bisa dipercaya, Vinasun dan Mailinh. Akan lebih baik memilih antara dua ini saja kalo nggak mau kena scam. Berhubung kita backpacker dengan tight budget, tentunya muter otak gimana bisa nyampe Ben Tahn market  dengan ongkos semurah-murahnya. Saya pernah baca kalau ada bis murah dari bandara ke distrik 1. Untuk memastikannya saya nanya sama beberapa petugas keamanan bandara. Mereka langsung nunjuk Bus 152 yang terparkir di ujung jalan.  Setelah mengucapkan terimakasih, saya dan teman-teman langsung menuju bus tersebut.
bus 152 ke distrik 1
 
 Ben Thanh market
Di dalam bus inilah pengalaman tidak menyenangkan terjadi. Kita ambil empat tempat duduk, Rama bareng Jo dan saya bareng Roni. Pas bayar ongkos, kondektur bus-nya nggak mau nerima duit kita karena duitnya kegedean. Ya gimana kan ya, ngambil duit di ATM kan nggak bisa pecahan gitu. Tiba-tiba seorang perempuan yang duduk di depan Rama langsung ngerocos dengan bahasa Vietnam terus ngambil duit pecahan seratus ribu dong yang Rama pegang, kemudian ngeluarin dompetnya dan ngasi duit pecahan kecil-kecil. Semuanya terjadi begitu cepat sampai kita berempat sama-sama bengong. Pas bengong gitu bule separuh baya yang duduk di samping saya ngomong ke saya. “Kamu harus hati-hati di Vietnam, soalnya uangnya gambarnya sama. Cuma beda warna aja. Liat nih,” katanya sambil ngeluarin dompet. Dan bener cuma warnanya aja yang beda-beda, gambarnya tetap seorang kakek dengan jenggot panjang yang sampai sekarang saya nggak tau siapa. Rama langsung bayar ongkos 20.000 dong (Sekitar 10ribu rupiah) ke kondekturnya trus ngitung duitnya. Setelah dihitung ternyata uangnya kurang. Fix kita kena scam sama mbak-mbak di depan. Ditipunya nggak banyak sih, tapi tetep aja ngerusak impresi perdana kita sama kota terbesar di Vietnam ini.
Sepanjang perjalanan ke Ben Tahn market kita disuguhi pemandangan macetnya jalan Ho Chi Minh City. Ribuan sepeda motor dempet-dempetan di jalanan. Bisa dilihat juga kalau pengemudi motor sebagian besar ugal-ugalan dan nggak peduli sama keselamatan dirinya maupun pengguna jalan yang lain. Beberapa kali saya liat dari jendela bus pengemudi mobil adu mulut sama pengguna motor. Mungkin karena kita ada di jam pulang kantor kali ya, makanya suasananya bener-bener hectic gitu. Setelah duduk sekitar 45 menitan di dalam bus, kita akhirnya nyampe di lokasi dimana jam tua itu berdiri, Ben Thahn market. Bagi traveler pasar ini terkenal untuk shopping beli oleh-oleh. Sebagian besar kerajinan tangan khas Vietnam ada disini dan harganya juga terjangkau, apalagi kalau kita ahli tawar-menawar.
Rencananya malam itu juga kita berangkat ke ibukota provinsi Lam Dong yang terkenal dengan nama the city of eternal spring alias kota musim semi abadi, Dalat. Teman-teman saya memang tidak berencana untuk explore HCMC. Sementara saya, yang terpaksa telat satu hari meninggalkan HCMC gara-gara telat booking tiket berencana untuk jalan-jalan di Ho Chi Minh City di hari terakhir bersama seorang teman  bernama Luc (sekalian nebeng nginap biar gretong). Hampir semua destinasi wisata di kota yang udah sekian kali ganti nama ini berada di distrik 1, jadi satu hari cukup lah. Setelah nanya sama seorang teman saya yang orang Vietnam, Daria, katanya bus paling enak untuk menuju Dalat adalah bus Phuong Trang yang poolnya di Pham Ngu Lao street, nggak terlalu jauh dari Ben Thanh market. Saya dan teman-teman langsung nyari dimana Pham Ngu Lao street itu berada. Dan pemirsa, jalan-jalan di HCMC itu agak ribet karena mengadopsi gaya jalan Perancis. Jadilah kita muter-muter ceria sore itu.
Nggak tau apa karena sistem navigasi kita masing-masing yang buruk, atau karena emang jalannya yang ribet, atau mungkin juga karena perut udah keroncongan karena belum makan siang, Pham Ngu Lao streetnya nggak ketemu-ketemu. Sambil nyari-nyari, kita juga jalan-jalan keliling Ben Thanh market. Ternyata kekacauan tadi belum berakhir saudara-saudara. Nyebrang jalan di HCMC memang butuh keahlian khusus. Motor bener-bener nggak peduli sama pejalan kaki. Kalo nyebrang jalan, ya harus ekstra hati-hati kalo nggak mau keserempet. Pengendara motor hanya akan berhenti beberapa senti di depan penyebrang jalan, cukup untuk bikin serangan jantung. Belum satu jam di kota ini aja kita udah beberapa kali hampir ditabrak. Abis itu sepanjang jalan ada-ada aja yang kita liat. Pertama, ada ibu-ibu gendong balitanya yang setengah telanjang terus ditaro di pinggir jalan. Kita liatin kan, ni orang mau ngapain. Eh tiba-tiba anaknya boker dengan inosennya, padahal disana banyak banget orang. Emaknya cuek aja. Beberapa meter dari situ, ada orang teriak-teriak. Kita langsung waspada, pasang kuda-kuda haha. Ternyata ada dua perempuan lagi berantem jambak-jambakan, dan orang-orang cuma ngeliatin aja tanpa ada yang melerai.
Di taman kota, kami papasan sama seorang bule paruh baya. Saya langsung nyapa terus nanya dimana pool Phong Trang bus yang di Pham Ngu Lao street itu. Dari cara berpakaiannya, saya berasumsi kalo bule ini expat yang udah lama tinggal di HCMC. Selain HCMC tingkat kecelakaannya tinggi, saya juga pernah baca kalau banyak banget expat khususnya dari negara-negara barat yang menetap di kota ini. Dengan petunjuk dari pak bule, kami nyampe di pool Phuong Trang bus. Letaknya tepat disamping Saigon Hotel. Disana kita langsung booking tiket. Untuk ke Dalat sendiri busnya berangkat setengah jam sampai satu jam sekali. Karena mau jalan-jalan dulu keliling Pham Ngu Lao street yang terkenal itu, kami memilih bus terakhir jam setengah dua belas malam seharga 240.000 Dong (IDR 140.000-an) / orang. 
the magical, Pho!
the magical hansy in Pha Ngu Lao street *ngooook*
Udah lewat jam tujuh malam dan belum makan siang, kita udah lemes parah. Untungnya tiket ke Dalat sudah ditangan, jadi nggak perlu takut terkatung-katung di HCMC malam itu. Tepat di depan pool bus, ada sebuah resto khas Vietnam. Namanya Sam Kang. Kami yang udah kelaparan tanpa pikir panjang langsung masuk restonya. Apalagi dari menunya kelihatan dari luar, harganya affordable banget. Kita langsung pesan Pho, mie beras yang katanya enak banget itu. Dan begitu makan, ternyata bener, Pho itu enaaaaaaaak banget, bikin merem melek dan nambah dua kali (mungkin juga karena kelaparan seharian). Mie beras yang dimasak dengan kuah kaldu plus irisan daging, bawang bombay dan sayuran. Oh, saya benar-benar foodgasm malam itu saking enaknya. Kita duduk nyantai melepas penat di Sam Kang sampai dua jam. Ownernya baik banget lagi, nyediain kabel panjang buat kita berempat ngecharge ponsel. Kekacauan hari itu rasanya benar-benar terobati.

to be continued..

5 blabla(s):

Gloria Putri mengatakan...

Hans agak gemukan ya?
sepertinya semakin bahagia....iyakah?
semoga....seneng liat senyumnya....qiqiiqiq...bikin mupeng pengen ke Vietnam niii....

Hans Febrian mengatakan...

iya nih glo, agak gemukan hahhaha.
ya doooong, harus makin bahagia!
Vietnam seru! buru bikin plan ;)

Inggit Inggit Semut mengatakan...

Mas hans ke vietnam cukup 10jt gak ya?

Hans Febrian mengatakan...

aku aja ke 3 negara cm abis 3.5an dek. asal pintar2 aja ga bakalan abis banyak kok.

Enjel Mas mengatakan...

Thanks for taking the time to discuss this, I feel about it and love learning more on this topic. If possible, as you gain expertise, would you mind updating your blog with more information? It is extremely helpful for me. gaple online

 

Blog Template by