Sabtu, 12 Desember 2015

1000 Guru : Cita-cita Milik Semua

Sudah lama sekali rasanya saya ingin mendaftar menjadi relawan 1000 Guru. 1000 Guru adalah komunitas peduli pendidikan bagi anak-anak pedalaman dan perbatasan yang berbasis di Jakarta. Salah satu bentuk kegiatannya adalah traveling and teaching atau disingkat dengan TnT dimana para relawan diberikan kesempatan langsung untuk mengunjungi sekolah dasar di berbagai daerah pedalaman atau perbatasan untuk mengajar sekaligus berbagi inspirasi dengan anak-anak disana. Begitu komunitas ini dikabarkan akan berdiri di Sumatera Barat, saya segera mencari tahu perkembangannya. Saya mulai terhubung dengan beberapa calon relawan, namun dikarenakan kesibukan saya di kantor dan sedang bersiap untuk melaksanakan sebuah program pertukaran, saya hampir tidak pernah bisa meluangkan waktu untuk menghadiri pertemuan.
Barulah Desember 2015 akhirnya saya punya banyak waktu senggang. Begitu pendaftaran relawan dibuka untuk kegiatan TnT, saya segera mengisi formulir dan mengirimkannya pada panita. Senang sekali saya tidak perlu menunggu lama untuk bergabung karena beberapa minggu setelah saya mendaftar, nama saya tertera pada daftar relawan terpilih TnT 3 1000 Guru Sumatera Barat. Pada TnT 3 ini para relawan yang berjumlah 23 orang akan mendatangi sebuah sekolah di Kabupaten Solok yang pendidikannya dapat dikategorikan sangat memprihatinkan. Dari cerita yang saya dapat dari panitia, desa tempat sekolah ini berdiri terletak di perbukitan dan belum sama sekali terjamah oleh penerangan listrik, plus tingkat putus sekolahnya termasuk sangat tinggi. Saya cukup penasaran sebenarnya mengetahui masih ada daerah yang belum tersentuh penerangan di Sumatera Barat. Rasa penasaran ini membuat saya tidak sabar menanti hari H keberangkatan kami.
Hari yang ditunggu-tunggu tiba. Saya dan relawan lainnya berkumpul di Taman Budaya Kota Padang, tempat yang telah kami sepakati sebelumnya. Dengan menggunakan truk TNI, para relawan dan panitia bergerak menuju lokasi sekolah. Perjalanan diperkirakan akan memakan waktu selama empat jam. Kami sudah diminta untuk mempersiapkan banyak hal seperti sleeping bag, pakaian untuk daerah dingin, jas hujan dan penerangan pribadi karena lokasinya  berada di daerah pegunungan yang sudah pasti cuacanya tidak dapat diprediksi. Dan benar saja, yang kami takutkan terjadi. Di perjalanan menuju desa tiba-tiba truk yang kami tumpangi tiba-tiba slip. Kami seluruhnya harus turun dari truk untuk membantu mendorong bus keluar dari tanah yang berlumpur karena disiram gerimis. Satu jam berusaha mengeluarkan ban dari dalam lumpur sama sekali tidak membuahkan hasil, malah membuat roda truk semakin mendekati tepi jalan yang curam. Keputusan pun diambil, relawan perempuan dipersilahkan untuk lebih dahulu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, sementara bagi laki-laki tetap menunggu di lokasi, membantu mengeluarkan truk dari kubangan.
 the volunteers!

probably we need to start a diet
 pagi di Pakan Rabaa
Gerimis semakin menderas begitu beberapa warga datang ke lokasi. Dengan ikhlas mereka berusaha membantu mencarikan tanah kering dan kayu untuk membantu truk keluar dari kubangan. Upaya tidak sia-sia, selang berapa lama roda truk berhasil keluar. Meskipun begitu - jika kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan truk - besar kemungkinan hal yang sama akan terjadi lagi. Kami sepakat untuk meninggalkan truk di depan rumah warga dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Para relawan pun berjalan melewati jalan yang becek dalam pekatnya malam. Tak ada satupun cahaya lampu terpancar selain dari cahaya lampu senter di tangan kami yang gemetaran ditiup angin malam.
Barulah ketika jam tangan di pergelangan tangan kiri saya menunjukkan pukul setengah dua belas malam kami tiba mushalla desa yang akan kami jadikan tempat menginap malam itu. Mushalla itu tidak terlalu besar, hanya ada satu ruangan lapang dan dua kamar mandi yang masih berfungsi. Setelah briefing dalam keadaan gelap gulita karena penerangan yang terbatas, para relawan satu persatu mengeluarkan kantong tidur masing-masing, kemudian berbaris tidur diatas tikar plastik. Sayup-sayup mulai terdengar dengkuran demi dengkuran kelelahan. 

Tak ada suara deru mesin atau klakson kendaraan bermotor saat pagi membangunkan kami dari tidur. Yang ada hanyalah kabut tebal menyelimuti sebagian besar desa, udara dingin yang menusuk dan asap yang mulai mengepul dari tungku rumah-rumah kayu diatas bukit, pertanda kehidupan hari ini baru saja dimulai. Sambil menunggu antrian kamar mandi, saya dengan jaket tebal yang terpasang memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi desa. Sepanjang mata memandang terhampar kebun-kebun kubis, sawi, wortel, tomat, bawang dan sayur-sayuran lainnya diselingi oleh beberapa rumah kayu. Dari kejauhan saya melihat anak-anak dengan handuk berlari ke “kamar mandi” yang berada di depan rumahnya. Beberapa lainnya tampak mulai mengenakan seragam sekolah dengan pipi putih belepotan bedak. Sungguh pemandangan yang benar-benar mendamaikan.
Saya bertemu langsung dengan anak-anak itu di lapangan SD Negeri 11 Pakan Rabaa, Jorong Taratak Baru, Nagari Koto Laweh, Kecamatan Lembang Jaya beberapa jam setelahnya. Mulai tampak senyum-senyum malu di wajah mereka karena bertemu dengan orang-orang asing Beberapa dari mereka menggunakan sepatu, sementara sisanya hanya menggunakan sendal jepit. Sekolah yang mereka tempati hanya terdiri dari empat kelas, satu kelas dipakai untuk ruang guru, tiga sisanya dipakai untuk kegiatan belajar mengajar. Hanya dua orang guru yang bertugas mengajar sehingga siswa kelas satu dan kelas dua terpaksa digabung dalam satu kelas. Tidak ada kelas 4, 5, maupun 6. Jika ingin melanjutkan pendidikan ke kelas 4, maka siswa-siswa ini harus melanjutkannya di sekolah induk yang jaraknya cukup jauh dari desa mereka. Tapi anehnya, meskipun dilingkupi sekian banyak keterbatasan, tidak sedikitpun tampak kesedihan di wajah-wajah kecil mereka. Mata-mata berbinar dengan senyum mengembang itu serentak memperhatikan drone yang terbang diatas kepala mereka, sebelum upacara bendera.
Setelah Bendera Merah Putih berkibar di tiang halaman yang berbatas langsung dengan kebun kubis itu, para relawan dan adik-adik siswa SDN 11 Pakan Rabaa mulai berbaur dalam beberapa ice breaking. Kami berkenalan satu sama lain disusul gelak terpingkal-pingkal mengikuti permainan yang dipandu panitia. Kegiatan kemudian dilanjutkan di dalam kelas. Dua puluh tiga relawan disebar dalam tiga kelas dan saya ditempatkan di Kelas 3 bersama dengan enam orang teman relawan lainnya. Tidak perlu waktu yang lama bagi kami berkenalan dengan adik-adik. Semuanya tampak senang mengikuti kegiatan hari itu, meskipun hujan mengguyur deras dan beberapa menit sekali ada yang bertengkar dengan teman satu kelasnya. Menurut saya hal yang sangat wajar bagi anak seusia mereka agak sedikit nakal mengingat ketika kecil dulu saya juga termasuk anak yang susah diatur.
Kegiatan dalam kelas kami bagi dalam dua sesi yang diselang-selingi beberapa kali: belajar dan bermain. Materi yang kami sampaikan adalah mengenai cita-cita dan profesi. Hal yang amat membanggakan dari adik-adik Kelas 3 SDN 11 Pakan Rabaa ini adalah masing-masing mereka sudah punya cita-cita. Mereka sudah tau ingin jadi apa mereka kelak dan apa saja yang harus mereka lakukan. Beberapa anak ingin menjadi Polisi, karena ingin melindungi masyarakat dari orang jahat. Beberapa lainnya ingin menjadi guru karena ingin mengajar lebih banyak lagi siswa-siswa. Satu dua orang ingin menjadi dokter supaya nanti orang sakit tidak perlu jauh-jauh lagi berobat. Menggemaskan sekali melihat mereka menceritakan cita-cita yang telah terlebih dahulu ditulis di kertas yang telah kami sediakan. Sambil menikmati sarapan, kami para relawan terus mencoba membakar semangat adik-adik ini supaya senantiasa melanjutkan pendidikan mereka. Bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika kita selalu bekerja keras dan melakukan yang terbaik yang kita bisa. Hidup jauh dari hiruk pikuk perkotaan, tanpa penerangan listrik maupun sarana pendidikan yang memadai sama sekali bukan penghalang jika mereka punya niat yang kuat. Kami ingin senyum-senyum itu tak hanya berhenti saat baju merah putih dilepas. Kami ingin dua puluh tahun dari sekarang mereka telah berhasil mengenakan pakaian kebanggaan mereka masing-masing dengan senyum yang sama. 
Usai kelas, para panitia, relawan, guru-guru dan siswa-siswa SDN 11 Pakan Rabaa berkumpul dalam satu ruangan untuk makan siang bersama. Kegiatan ditutup dengan pembagian donasi berupa tas sekolah dan alat-alat tulis dari para relawan sekaligus penempelan Pohon Impian, dimana masing-masing anak menulis impian mereka di pohon yang ditempel di depan kelas mereka. Kami harap, pohon impian itu selalu menjadi pengingat bagi mereka bahwa mereka punya cita-cita yang harus diwujudkan. 
Pengalaman bersama 1000 Guru Sumbar adalah pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan bagi saya. Awalnya saya pikir bahwa saya mengorbankan sedikit Rupiah dan waktu yang saya punya untuk berbagi, sebagai bentuk rasa syukur saya terhadap apa yang telah Tuhan berikan pada saya selama ini. Namun ternyata berkorban bukanlah pilihan kata yang tepat karena apa yang saya terima malah jauh lebih besar daripada apa yang saya berikan. Saya mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan. Saya juga kini mendapatkan keluarga baru yang sangat menyenangkan. Sama halnya ketika saya berpikir bahwa saya datang kesana akan mengajarkan banyak hal pada anak-anak desa. Kenyataannya, saya malah diberkati dengan lebih banyak pelajaran-pelajaran hidup tentang ketulusan, kesabaran, kerja keras, dan yang paling penting adalah tentang bahagia tanpa peduli bagaimanapun keadaanya. Dari gelak tawa yang kami bagi saya belajar bahwa bahagia hakikatnya adalah sesuatu yang kita bawa di dalam diri kita, bukan sesuatu yang diciptakan oleh kondisi lingkungan sekitar. Karena dengan begitu, bagaimanapun keterbatasan dan sulitnya keadaan yang kita hadapi, tidak akan mengusik rasa bahagia di dalam dada. Terima kasih adik-adikku, sampai jumpa lagi.

10 blabla(s):

Rahmi Purwaningsih mengatakan...

kece bang hans. detailnya dapet. kalo ada waktu mampir juga ke blog ami bang.

http://milymoysandherworld.blogspot.co.id/2015/12/1000-guru-sumbar-rancak-banaaaa.html?m=1

Enno mengatakan...

Aaaaak! Aku iriii! Ini adalah postingan kamu yg paling aku sukai tahun ini hahaha...
kereeen!
*sembari iri dan gigit jari*

Hans Febrian mengatakan...

Amy: sure dek Amy!
Enno: hahahahaha, karena emang tulisan tahun ini cuma tiga kali ya Enn. :))

Rendri Dwijaya mengatakan...

Bang slanjutnya di tunggu?kalo bisa tentang si margo

riyanto perdana mengatakan...

Melihat foto wajah anak-anak bagai melihat bayangan surgawi. Teduh dan menenangkan jiwa. Salute for you, Hans. Keep going to do the good action.

hana tsurayya mengatakan...

love to see you spreading the positive vibes, well done hans!

Hans Febrian mengatakan...

thanks guys! :D

Wali yadi mengatakan...

I'm not reading. Just frozen by your playlist, ada satu lagu yang liriknya you need someone...some one to call.... let it be me...let it be me..udah googling tapi nemunya everly brother sama kenny rogers? Judul bener sama penyanyi aslinya sapa ya?

Depan Depan mengatakan...

Togel This is a nice and informative, containing all information and also has a great impact on the new technology... togel singapura

Fara Tot mengatakan...

hello!
Foto ngentot tante binal semok sampe mendesah

 

Blog Template by