Sabtu, 21 Februari 2015

30 day Introspective Challenge

Setelah membuat kopi ke dua untuk hari jumat yang cerah, kemarin saya kembali ke meja kerja. Duduk sebentar sambil mengecek messenger di smartphone kemudian kembali ke berhadapan dengan layar komputer. Seperti biasa, setiap hari jum’at bawaannya jadi lebih rileks, lebih nyantai karena tau besok hari libur. Apalagi akhir-akhir ini saya lagi nggak banyak kerjaan, jadi lengkaplah sudah. Sambil menunggu kopinya siap diminum, saya kemudian browsing-browsing di internet. Entah bagaimana caranya, akhirnya saya sampai pada sebuah situs marcandangel.com. Di salah satu postingnya tertera seperti ini:
30 Day Introspective Challenge
This challenge is all about you: your values, your beliefs, your true essence.  Answer the questions thoughtfully and truthfully in order to gain a greater understanding of who you really are. *berikut 30 pertanyaan yang harus dijawab satu per harinya selama tiga puluh hari kedepan*
Introspective Challenge, about your values, belief and true essence. Kedengarannya berat sekali ya. Saya lalu jadi kepikiran buat ikutan tantangannya dengan  menjawab pertanyaan-pertanyaannya yang kelihatannya simpel tapi tricky ini. Dan simsalabim! Lahirlah blog baru saya di sini. Blog yang saya namai wandering, wondering (dua hal yang paling sering saya lakukan) ini kedepannya akan diisi dengan hal-hal yang lebih random daripada Good Morning Freedom, berisi pikiran-pikiran saya yang dibuang sayang, disimpan nyampah, haha. Hari ini adalah hari perdana saya menjawab tantangan ini. Saya rasa, tidak ada salahnya meluangkan waktu sepuluh sampai lima belas menit sehari untuk menjawab pertanyaannya ini sejujur-jujurnya. Let’s see whats going to happen after 30 days. Mau ikutan? Cek di blog saya ya, klik aja gambar diatas. And tell me if you take this challenge, I would love to read your answers. Have a good day!

Kamis, 19 Februari 2015

Ho Chi Minh City: Pham Ngu Lao Street (2)

Banyak yang tidak tahu kalau ternyata Ho Chi Minh City dulunya adalah wilayah teritorial kerajaan Khmer. HCMC dulunya bernama Prey Nokor, sebuah kota pelabuhan Kamboja. Pada abad ke 16 terjadi perang saudara di Vietnam sehingga banyak pengungsi lari dan berdatangan ke Prey Nokor untuk meminta perlindungan. Chey Chetta, Raja Khmer yang saat itu berkuasa mengizinkan pengungsi Vietnam untuk mendirikan pemukiman di Prey Nokor. Semakin lama jumlah pengungsi makin banyak dan tak terkendali, sehingga terjadilah Vietnamisasi di kota kecil ini. Saat situasi politik Kamboja melemah karena perperangan dengan Thailand, Prey Nokor akhirnya dicaplok habis sama Vietnam. Kalo dipikir-pikir nggak tau terima kasih banget ya, hahaha. Setelah diduduki, pada abad ke 17 Nama Prey Nokor pun diubah menjadi Saigon.
Pertengahan abad 18, Saigon jatuh ke tangan Perancis. Pada masa inilah bangunan-bangunan dan jalan-jalan bergaya klasik barat mulai mengisi sebagian besar Saigon. Beberapa yang masih tersisa sampai sekarang adalah Saigon Opera House, Central Post Office dan yang paling terkenal tentunya Notre Dame Cathedral. Satu abad selanjutnya Saigon jadi kota penuh dengan perperangan, direbutin banyak pihak. Singkat cerita 1 Mei 1975 setelah jatuhnya Vietnam Selatan, barulah nama Saigon berubah menjadi Ho Chi Minh City. Meskipun begitu nama Saigon sampai sekarang masih sering digunakan. Ho Chi Minh juga sukses menjadi kota terbesar di Vietnam, meskipun ibukotanya tetap di ujung utara, Hanoi.
Sekian mukadimanya. Mari lanjut ke malam perdana saya di Ho Chi Minh City. Setelah dua jam istirahat di Sam Kang, saya dan teman-teman sepakat untuk jalan muter-muter Pham Ngu Lao street. Kesan pertamanya, Pham Ngu Lao street itu bener-bener touristic and western. Sepanjang jalan penuh dengan kafe, resto, hotel-hotel mahal sampe budget hostel, travel agency, money changer, hingar bingar night club. Ribuan orang dengan kewarganegaraan berbeda tumpah ruah dimana-mana. Suasananya sebenarnya menyenangkan, liburan banget deh kesannya. Saya dan teman-teman dengan pedenya ngeluarin hape dan kamera masing-masing, moto-moto setiap sudut. Lagi seru-serunya,  seorang  cowok seumuran saya dengan ransel tiba-tiba nyapa. “Hey, watch out your phone  and belongings. Somebody with motorbike could rip your belongings off and speed away!” Saya langsung mengucapkan terimakasih. Cowok itupun berlalu, hilang dikerumunan orang-orang.  Saya dan teman-teman berpandang-pandangan dan mulai menganalisa. Sepanjang jalan memang kebanyakan orang terlihat berhati-hati dengan barang bawaan mereka, tak satupun tampak mengeluarkan benda-benda berharga seperti ponsel atau kamera. Beberapa blok dari sana kami dikejutkan oleh seorang cewek bule teriak-teriak histeris, “My bag.. Oh my god, my passport.. credit card.. all is there!” kemudian jatuh lemes di trotoar. Orang-orang cuma bisa ngeliatin karena bingung mau gimana. Jambretnya juga udah kabur naik motor entah kemana. Parah banget deh, nggak kebayang  kalo saya di posisi mbak bule itu. Sesudah kejadian itu saya dan teman-teman jadi ekstra hati-hati. Barang-barang berharga semuanya disimpan di tempat paling aman.
Sebenarnya banyak banget yang bisa dieksplor di Pham Ngu Lao street, tapi dengan tingkat keamanan yang sedikit mengkhawatirkan, niat buat jalan-jalan sampe ke gang-gangnya perlahan memudar *halah bahasanya*. Saya nggak bilang kalau Pham Ngu Lao street nggak recommended ya! I love this street, I adore the vibrancy, I would love to visit this street again one day. Tapi ya kalau disini disarankan agar lebih hati-hati karena kriminalitasnya tinggi, banyak copet, jambret dan teman-teman satu spesiesnya. 
Saya dan teman-teman kemudian berhenti di sebuah toko es krim antik dengan jendela besar dan etalase penuh es krim warna-warni, Fany Ice Cream. Kami saling bertatap-tatapan, tanpa komando semuanya langsung masuk. Kita langsung naik ke lantai dua dan memesan es krim yang beda-beda, biar bisa icip-icip. Untungnya ada free wifi jadinya zombie-zombie post modernisasi ini bisa mengaktifkan gadget dan menghubungi significant other masing-masing, hahahhakkeselek. Suasana Fany Ice Cream benar-benar menenangkan apalagi setelah melewati jalanan dengan perasaan was-was. Hampir setiap sudut ada orang pacaran dengan mesranya. Hal ini agak mengganggu pemandangan saya yang mencari kedamaian. Saya pengen nuntun ke polisi atas tuduhan penganiayaan terhadap pria single yang kece seperti saya. *Ini apa lagi deh?* Saya memesan mixberries ice cream yang rasanya seger banget. Kalo nggak mikir-mikir bakalan mencret-mencret di bus gara-gara lactose intolerance labil yang kadang-kadang suka menyerang saya, mungkin saya udah cicipin itu es krim satu-satu. Harganya pun cukup ramah lah di kantong, cuma  35.000 – 40.000 Dong per scoopnya.
mixberries
drooool
Jam menunjukkan pukul 11.00 malam ketika kami memutuskan kembali ke pool bus Phuong Trang. Kita duduk-duduk di minimarket dekat sana, nunggu keberangkatan sambil gantian numpang mandi di pool Phuong Trang. Saya ganti pakaian sama baju kaos dan celana batik uzur yang udah mirip kain lap (kata Rama, orang kesekian yang bilang), tapi bodo lah yaaaa ini celana favorit saya kalau lagi traveling, soalnya ringan, longgar dan gak panas. Lagian cuma tinggal naik bus trus tidur sampe pagi. Kesamaan antara bus Indonesia dan Vietnam adalah sama-sama ngaret. Bus yang jadwalnya udah jalan jam setengah dua belas, baru nyampe sekitar jam dua belas lebih lima belas menit.  Tapi serius, busnya bagus banget! Tipenya sleeper gitu. Jadi nggak ada bangku, adanya kasur bertingkat. Sebelum naik bus wajib buka alas kaki. Nanti kita dikasi kantong kresek buat nyimpen sepatu atau sendal. Selain itu kita dikasih juga selimut biar bisa tidur nyenyak. Sayangnya nggak ada wifi, kalau ada wifi lengkaplah sudah bus Phuong Trang Futa Line ini. Di Indonesia, setahu saya belum ada bus tipe sleeper. Bus paling nyaman yang pernah saya naiki adalah bus dari Medan  ke Banda Aceh, Sempati Star. Bangkunya 2-1, agak lapang, dikasi selimut gratis, free wifi dan jalannya smooth banget. Itu aja udah enak banget, saya ketiduran tau-tau udah nyampe aja di Banda Aceh, apalagi bus dengan tempat tidur kayak gini ya, pikir saya. Estimasi perjalanan menuju Dalat adalah delapan jam. Baru beberapa menit di atas bus kami langsung tewas kecapekan. Dalat, here we come!
                                                                                                                                       to be continued..

Sabtu, 14 Februari 2015

Vietnam: a Chaotic Day in Ho Chi Minh City (1)

HCMC from above
Akhirnya pesawat yang saya tumpangi mendarat dengan mulus di Tan Son Nhat International Airport, setelah drama bolak-balik ke konter Air Asia buat ngurus formulir imigrasi saya yang hilang di Bangkok. I was so excited, it’s the first time for me to explore Vietnam. Saya langsung mengantri di konter imigrasi buat pemegang asean passport sambil celingukan nyariin temen-temen saya udah nyampe atau belum. Begitu melihat petugas-petugas imigrasinya, kebiasaan buruk saya kumat. Saya mulai ngebanding-bandingin petugas imigrasi Vietnam dengan Thailand. Kalo di Thailand petugas imigrasinya rata-rata masih muda, cakep dan memakai seragam fit yang ngepas di badan. Beda banget sama Vietnam. Petugas imigrasinya rata-rata udah tua dan memakai seragam gombrong yang ukurannya bisa dipake dua orang *jahat*.  Prosesnya berjalan lancar, nggak ditanya apa-apa langsung cap dan saya duduk di bangku di belakang konter imigrasi nungguin teman-teman saya yang belum nyampe.
Beberapa saat kemudian pesawat Vietjet yang ditumpangi teman-teman saya juga mendarat di Ho Chi Minh City. Kita langsung ke ATM terdekat untuk ngambil duit dan langsung keluar. Sesuai MOU, di Vietnam saya yang jadi kepala rombongan. Tujuan awal kita adalah menuju Ben Tahn Market, kemudian jalan kaki ke Pham Ngu Lao street, di distrik 1. Ada beberapa pilihan sebenarnya untuk mencapai kawasan pusat backpacker ini. Pertama, paling simpel ya naik taksi. Perlu diketahui bahwa di Ho Chi Minh cuma ada dua taksi yang bisa dipercaya, Vinasun dan Mailinh. Akan lebih baik memilih antara dua ini saja kalo nggak mau kena scam. Berhubung kita backpacker dengan tight budget, tentunya muter otak gimana bisa nyampe Ben Tahn market  dengan ongkos semurah-murahnya. Saya pernah baca kalau ada bis murah dari bandara ke distrik 1. Untuk memastikannya saya nanya sama beberapa petugas keamanan bandara. Mereka langsung nunjuk Bus 152 yang terparkir di ujung jalan.  Setelah mengucapkan terimakasih, saya dan teman-teman langsung menuju bus tersebut.
bus 152 ke distrik 1
 
 Ben Thanh market
Di dalam bus inilah pengalaman tidak menyenangkan terjadi. Kita ambil empat tempat duduk, Rama bareng Jo dan saya bareng Roni. Pas bayar ongkos, kondektur bus-nya nggak mau nerima duit kita karena duitnya kegedean. Ya gimana kan ya, ngambil duit di ATM kan nggak bisa pecahan gitu. Tiba-tiba seorang perempuan yang duduk di depan Rama langsung ngerocos dengan bahasa Vietnam terus ngambil duit pecahan seratus ribu dong yang Rama pegang, kemudian ngeluarin dompetnya dan ngasi duit pecahan kecil-kecil. Semuanya terjadi begitu cepat sampai kita berempat sama-sama bengong. Pas bengong gitu bule separuh baya yang duduk di samping saya ngomong ke saya. “Kamu harus hati-hati di Vietnam, soalnya uangnya gambarnya sama. Cuma beda warna aja. Liat nih,” katanya sambil ngeluarin dompet. Dan bener cuma warnanya aja yang beda-beda, gambarnya tetap seorang kakek dengan jenggot panjang yang sampai sekarang saya nggak tau siapa. Rama langsung bayar ongkos 20.000 dong (Sekitar 10ribu rupiah) ke kondekturnya trus ngitung duitnya. Setelah dihitung ternyata uangnya kurang. Fix kita kena scam sama mbak-mbak di depan. Ditipunya nggak banyak sih, tapi tetep aja ngerusak impresi perdana kita sama kota terbesar di Vietnam ini.
Sepanjang perjalanan ke Ben Tahn market kita disuguhi pemandangan macetnya jalan Ho Chi Minh City. Ribuan sepeda motor dempet-dempetan di jalanan. Bisa dilihat juga kalau pengemudi motor sebagian besar ugal-ugalan dan nggak peduli sama keselamatan dirinya maupun pengguna jalan yang lain. Beberapa kali saya liat dari jendela bus pengemudi mobil adu mulut sama pengguna motor. Mungkin karena kita ada di jam pulang kantor kali ya, makanya suasananya bener-bener hectic gitu. Setelah duduk sekitar 45 menitan di dalam bus, kita akhirnya nyampe di lokasi dimana jam tua itu berdiri, Ben Thahn market. Bagi traveler pasar ini terkenal untuk shopping beli oleh-oleh. Sebagian besar kerajinan tangan khas Vietnam ada disini dan harganya juga terjangkau, apalagi kalau kita ahli tawar-menawar.
Rencananya malam itu juga kita berangkat ke ibukota provinsi Lam Dong yang terkenal dengan nama the city of eternal spring alias kota musim semi abadi, Dalat. Teman-teman saya memang tidak berencana untuk explore HCMC. Sementara saya, yang terpaksa telat satu hari meninggalkan HCMC gara-gara telat booking tiket berencana untuk jalan-jalan di Ho Chi Minh City di hari terakhir bersama seorang teman  bernama Luc (sekalian nebeng nginap biar gretong). Hampir semua destinasi wisata di kota yang udah sekian kali ganti nama ini berada di distrik 1, jadi satu hari cukup lah. Setelah nanya sama seorang teman saya yang orang Vietnam, Daria, katanya bus paling enak untuk menuju Dalat adalah bus Phuong Trang yang poolnya di Pham Ngu Lao street, nggak terlalu jauh dari Ben Thanh market. Saya dan teman-teman langsung nyari dimana Pham Ngu Lao street itu berada. Dan pemirsa, jalan-jalan di HCMC itu agak ribet karena mengadopsi gaya jalan Perancis. Jadilah kita muter-muter ceria sore itu.
Nggak tau apa karena sistem navigasi kita masing-masing yang buruk, atau karena emang jalannya yang ribet, atau mungkin juga karena perut udah keroncongan karena belum makan siang, Pham Ngu Lao streetnya nggak ketemu-ketemu. Sambil nyari-nyari, kita juga jalan-jalan keliling Ben Thanh market. Ternyata kekacauan tadi belum berakhir saudara-saudara. Nyebrang jalan di HCMC memang butuh keahlian khusus. Motor bener-bener nggak peduli sama pejalan kaki. Kalo nyebrang jalan, ya harus ekstra hati-hati kalo nggak mau keserempet. Pengendara motor hanya akan berhenti beberapa senti di depan penyebrang jalan, cukup untuk bikin serangan jantung. Belum satu jam di kota ini aja kita udah beberapa kali hampir ditabrak. Abis itu sepanjang jalan ada-ada aja yang kita liat. Pertama, ada ibu-ibu gendong balitanya yang setengah telanjang terus ditaro di pinggir jalan. Kita liatin kan, ni orang mau ngapain. Eh tiba-tiba anaknya boker dengan inosennya, padahal disana banyak banget orang. Emaknya cuek aja. Beberapa meter dari situ, ada orang teriak-teriak. Kita langsung waspada, pasang kuda-kuda haha. Ternyata ada dua perempuan lagi berantem jambak-jambakan, dan orang-orang cuma ngeliatin aja tanpa ada yang melerai.
Di taman kota, kami papasan sama seorang bule paruh baya. Saya langsung nyapa terus nanya dimana pool Phong Trang bus yang di Pham Ngu Lao street itu. Dari cara berpakaiannya, saya berasumsi kalo bule ini expat yang udah lama tinggal di HCMC. Selain HCMC tingkat kecelakaannya tinggi, saya juga pernah baca kalau banyak banget expat khususnya dari negara-negara barat yang menetap di kota ini. Dengan petunjuk dari pak bule, kami nyampe di pool Phuong Trang bus. Letaknya tepat disamping Saigon Hotel. Disana kita langsung booking tiket. Untuk ke Dalat sendiri busnya berangkat setengah jam sampai satu jam sekali. Karena mau jalan-jalan dulu keliling Pham Ngu Lao street yang terkenal itu, kami memilih bus terakhir jam setengah dua belas malam seharga 240.000 Dong (IDR 140.000-an) / orang. 
the magical, Pho!
the magical hansy in Pha Ngu Lao street *ngooook*
Udah lewat jam tujuh malam dan belum makan siang, kita udah lemes parah. Untungnya tiket ke Dalat sudah ditangan, jadi nggak perlu takut terkatung-katung di HCMC malam itu. Tepat di depan pool bus, ada sebuah resto khas Vietnam. Namanya Sam Kang. Kami yang udah kelaparan tanpa pikir panjang langsung masuk restonya. Apalagi dari menunya kelihatan dari luar, harganya affordable banget. Kita langsung pesan Pho, mie beras yang katanya enak banget itu. Dan begitu makan, ternyata bener, Pho itu enaaaaaaaak banget, bikin merem melek dan nambah dua kali (mungkin juga karena kelaparan seharian). Mie beras yang dimasak dengan kuah kaldu plus irisan daging, bawang bombay dan sayuran. Oh, saya benar-benar foodgasm malam itu saking enaknya. Kita duduk nyantai melepas penat di Sam Kang sampai dua jam. Ownernya baik banget lagi, nyediain kabel panjang buat kita berempat ngecharge ponsel. Kekacauan hari itu rasanya benar-benar terobati.

to be continued..

Kamis, 05 Februari 2015

Dua Lima

Aku sedang menebak-nebak, kira-kira prosesi apa yang tengah kamu siapkan. Kamu selalu tergila-gila berprosesi. Segala sesuatu harus dihantarkan dengan sempurna dan terencana. Perayaan dan peringatan menyesaki kalender kita sepanjang tahun, dan tidak pernah kamu bosan, bahkan kamu semakin ahli. Malam ini kamu menantangku berhitung dengan stop-watch. Teleponku akan berdering tepat setengah jam lagi. Sesungguhnya, kamu sudah sehebat itu. Janjimu adalah matahariku yang terbit dan terbenam tanpa pernah keliru. 
Sambil menunggu, izinkan aku berkelakar mengenai kamu dan sayap. Sejak kepindahanku ke negara lain, kamu terobsesi dengan segala makhluk bersayap. Kamu percaya bahwa manusia bersayap adalah hibrida termulia, di atas manusia bersirip dan berinsang. Aku ingin percaya kamu cukup cerdas untuk tidak mencoba terbang kemari. Kalaupun itu bisa terjadi, aku khawatir kamu mati lemas di jalan lalu jatuh ke laut. Dimakan hiu. Dan jadilah kalian hibrida yang luar biasa. Manusia bersayap di dalam perut mahluk bersirip berinsang. 
Dengan caramu mengagungkan momentum, kamu membuatku ikut percaya betapa sakralnya peluk cium 14 februari atau tiupan terompet tahun baru yang jatuh tepat pada hitungan 00:00. Kamu membuatku percaya ada poin tambahan jika mempelakukan hidup seperti arena balap lari. Namun imanku pada arena itu luruh dalam satu malam karena kegagalanmu mencapai garis finish. Lihatlah detik itu, jarum jam itu, momentum yang tak lagi berarti di detik pertama kamu gagal mengucapkan apa yang harusnya kamu ucapkan... Lima menit yang lalu...
Aku tidak tahu kemalangan jenis apa yang menimpa kamu, tapi aku ingin percaya ada insiden yang cukup dahsyat di dunia serba selular ini hingga kamu tidak bisa menghubungiku. Mungkinkah matahari lupa ingatan lalu keasyikan terbenam atau terlambat terbit? Bahkan kiamat pun hanya bicara soal arah yang terbalik, bukan soal perubahan jadwal. Atau mungkinkah ini akan jadi salah satu tanda kiamat kecil yang orang ramai gunjingkan, tentang lelaki berbaju perempuan, perempuan berbaju lelaki, lelaki bercinta dengan lelaki, dan perempuan bercinta dengan perempuan, dan kalau mereka mau menengok sejarah manusia ribuan tahun terakhir ini, tidakkah tanda semacam itu sudah apkir, klise, dan kiamat harus menyiapkan tanda-tanda baru bila masih ingin jadi hari yang paling diantisipasi, dengan misalnya, mengadopsi absurditas yang terjadi malam ini? Malam di mana kamu terlambat mengucapkan apa yang seharusnya kamu ucapkan... Satu jam yang lalu...
Satu waktu nanti, saat kamu berhenti percaya manusia bisa punya sayap selain lempeng besi yang didorong mesin jet, saat kamu berhenti percaya hidup lebih bermakna bila ada wasit menyalakkan aba-aba "1,2,3", kamu boleh terus percaya bahwa kemarin ... besok ... lusa ... dan hari-hari sesudah itu... Aku masih di sini. Menunggu kamu mengucapkan apa yang harusnya kamu ucapkan... Berjam-jam yang lalu:
"Selamat ulang tahun."
(Dee, Rectoverso)
 

Blog Template by