Jumat, 27 Maret 2015

Menanti Hujan

Setelah sekian lama tak datang, ia singgah lagi di kotaku dalam bentuk gumpalan-gumpalan awan hitam yang meluruh menjadi hujan, membasahi setiap sudut tanpa kecuali. Rintik-rintiknya yang rapat menghujam apa saja yang ia temui, membuat jalanan yang tadi berdebu dan ramai disesaki kendaraan, seketika menjadi tergenang dan sepi. Banyak sekali hal-hal di dunia ini yang bisa berubah dengan tiba-tiba. Kita selalu ditantang untuk siap dengan segala kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Baru saja matahari bersinar dengan terik dari celah jendela kantor, kini beberapa belas menit kemudian langit telah berubah pekat. Lampu-lampu mulai dinyalakan.
Aku merasa beruntung telah mencapai tempat ini tepat waktu, sehingga aku tak perlu berbasah-basah dalam hujan seperti orang lain di luar sana. Aku mengamati beberapa orang sedang berteduh dari balik jendela kafe. Pakaiannya basah dan bibirnya bergetar kedinginan. Sementara beberapa yang lain tetap berjalan tak peduli bagaimana derasnya tumpahan langit sore ini. Pandanganku beralih pada tiang listrik yang berdiri tepat di samping jendela. Burung-burung gereja berbaris rapi di kabelnya yang menjuntai panjang. Mudah saja bagi otakku untuk mengingatmu. Hanya perlu jeda beberapa saat, pikiranku sudah terlempar jauh pada saat kita duduk di bangku taman sore itu. Saat itu bibirmu yang tipis itu berkata jika kamu diizinkan untuk memilih, kamu ingin sekali menjadi burung. Kamu ingin terbang bebas kemanapun  kamu mau tanpa pretensi. Bagimu hidup dibawah sini  terlalu penuh dengan pura-pura dan sandiwara. Aku hanya tertawa saja menimpali. Meski terdengar penuh ilusi, entah mengapa aku begitu menyukaimu, pikiran-pikiran liarmu dan juga bagian-bagian dari dirimu yang sampai kini tak dapat aku mengerti.
Lamunanku buyar begitu pramusaji meletakkan dua cangkir kopi diatas meja. Ia melemparkan senyum sebelum meninggalkanku dengan kepulan asap dari dalam cangkir dan hati yang mulai disesaki dengan nostalgia. Begitulah hidup bekerja, suatu saat kita dipertemukan dengan seseorang, bersama-sama menulis cerita hingga waktunya berakhir dan kita kembali menjadi orang asing bagi masing-masing. Sisa-sisa kenangan yang berhasil diselamatkan akan membawa kita melewati waktu yang panjang dengan kesenduan, menyadari segala sesuatu tidak akan pernah sama lagi. Ingat tidak waktu aku bilang, hal-hal yang membuatmu sangat bahagia, cepat atau lambat akan meninggalkanmu sangat terluka? Mungkin disitulah aku kini berada. 
Detik ini, di persimpangan yang panjang usai kepergianmu aku kembali membayangkan betapa berbedanya sore ini jika kamu duduk dihadapanku, menyesap kopi hangatmu sambil berkelakar tentang apa saja, kemudian tertawa-tawa sampai dadamu terguncang. Seperti biasa, aku hanya akan menimpali dengan sesungging senyuman. Aku biasa menikmatimu dengan cara itu. Diam di tempat dudukku sambil menatap matamu yang meletup-melup mengimbangi bibirmu yang tak pernah berhenti bertutur. Aku merindukan hal-hal sederhana itu, sesederhana menatap wajahmu dalam diam, menggenggam jemarimu erat-erat, atau sekedar ucapan sampai ketemu saat kita berpisah. Disinilah aku sadar bahwa dalam cinta, hal-hal sederhana itu mahal harganya.
Aku menunduk, memperhatikan hujan yang makin menderas dan meninggalkan titik-titik air di jendela. Tangan kananku mengambil ponsel dari saku kemeja yang kupakai, memasang earphone dan memencet tombol shuffle. Aku kemudian menutup kedua mataku dan menghela nafas dalam. Aku berpikir, apa yang kamu lakukan sekarang, saat aku bahkan tak tahu kamu berada dimana. Siapa orang-orang yang datang dan pergi mengisi kehidupanmu saat ini? Apakah mereka membuatmu bahagia? Kamu perlu tahu bahwa sepeninggalmu aku banyak belajar. Aku telah paham bahwa ternyata perpisahan bukan melulu soal kesedihan dan air mata. Pun melepaskan bukan berarti kita berhenti mencintai. Banyak sekali hal-hal yang harus kita syukuri, seperti waktu-waktu yang pernah kita habiskan bersama dan bagaimana sebuah perpisahan telah memaksa kita tumbuh menjadi lebih besar dan kokoh.
I’ll tell you one thing, we ain’t gonna change much
The sun still rises, even with the pain
I’ll tell you one thing, we ain’t gonna change love
The sun still rises, even through the rain
Suara Jonathan Russel mengalun lembut di telingaku, menghadirkan bayangan wajahmu yang duduk sambil tersipu. Kali ini, izinkan aku mengatakan sesuatu: Jika nanti kamu sampai pada satu titik dimana pikiranmu berhenti pada ingatan tentangku, aku ingin kamu tahu bahwa aku masih tetap disini, dibawah remang lampu kafe, menunggumu dalam diam. Aku akan tetap setia menantimu selesai mencari apa yang kamu cari. Dan akan selalu ada dua cangkir kopi di mejaku. Satunya selalu milikmu.

 

Blog Template by