Sabtu, 19 Desember 2015

1000 Guru : Jelsi

Usai kegiatan teaching dan pembagian donasi, masing-masing relawan mengantar adik didik masing-masing kembali kerumahnya. Saya dan beberapa teman relawan volunteer kelas tiga mengantar Jelsi dan Olivia. Kami melewati jalan panjang becek berlumpur diantara kebun-kebun kubis. Sepanjang jalan gadis-gadis kecil ini berceria tentang apa saja. Olivia bercerita tentang rumahnya di kaki bukit, sementara Jelsi lebih banyak bercerita tentang cita-citanya. Ia bilang ia ingin jadi guru, namun kalau bapaknya ada uang untuk kuliah.
Jelsi adalah salah satu murid yang paling gampang dikenali. Menurut saya, ia adalah salah satu siswa paling bersinar di kelasnya. Ia mampu menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang kami berikan dengan baik. Dari cerita teman-teman sekelasnya, ia juga selalu menduduki ranking tiga besar. Saya sedikit sedih mendengar kata “tapi” di belakang cita-citanya itu. Seakan-akan ia berpikir bahwa cita-citanya hanya seharga berapa banyak Rupiah yang orangtuanya punya. Saya kemudian menggenggam tangan kecilnya sambil berkata, “Jelsi pasti bisa jadi guru, asalkan Jelsi sungguh-sungguh belajarnya, ya?”
Dia tersenyum, kemudian mengangguk pelan. Kami disambut gonggongan dua ekor anjing yang terikat ketika kami mulai jalan mendaki menuju rumahnya yang berada di lereng bukit. Dari kejauhan seorang bapak berusia kira-kira awal empat puluhan berhenti dari aktivitasnya di tengah ladang, memperhatikan anak perempuannya berjalan bersama kami. Ia meletakkan alat-alat kerjanya di tanah dan berjalan menghampiri. Saya dan teman-teman memperkenalkan diri sebagai relawan dari 1000 Guru. Jelsi dengan bangga memperlihatkan alat tulis yang baru ia menangkan karena berhasil menjawab pertanyaan dan tas sekolah barunya. Kami segera pamit kembali ke basecamp namun Ayah Jelsi bersikeras mengajak kami mampir. Kami sama sekali tidak sedang diburu waktu hingga kami terima saja ajakan itu.
Kami sampai di sebuah rumah kayu sederhana di pinggir kebun ubi. Ibu Jelsi yang juga berusia kira-kira awal 40 tahunan dengan cekatan segera membuat kopi untuk kami. Dua adiknya yang masih balita bermain di halaman depan. Rumahnya sama sekali tidak besar. Hanya satu ruangan kecil seukuran kos-kosan berdinding kayu dilapisi terpal. Tidak ada tempat tidur ataupun perabot lain selain sebuah meja kecil di pojokan. Saya terus terang tidak dapat membayangkan bagaimana ruangan sekecil itu dipakai sebagai tempat tinggal bagi lima orang. “Beginilah keadaan Jelsi, dik,” kata Ibu Jelsi sambil menyajikan kopi di atas tikar. Kami hanya bisa tersenyum saja.
Setengah jam kami mengobrol tentang banyak hal. Ini ternyata sudah tahun ke empat mereka tinggal di lereng bukit itu. Ayah Jelsi bekerja menggarap sebidang lahan kepunyaan orangtuanya. Selain menjual hasil panennya, mereka tidak punya penghasilan tambahan lain. Meskipun jauh dari dikatakan hidup berada tapi saya senang sekali ternyata orangtua Jelsi termasuk peduli dengan pendidikan anaknya. Mereka sempat ragu bagaimana caranya Jelsi bisa melanjutkan sekolah nanti ke SMP yang jaraknya cukup jauh dan memakan biaya yang cukup besar (jika menggunakan ojek bisa lima ribu Rupiah sekali jalan), namun saya meyakinkan mereka bahwa Jelsi adalah anak yang spesial, dia punya cita-cita yang besar dan kita harus mendukungnya untuk mencapai cita-cita itu. Akan sangat sia-sia rasanya kemampuan yang ia punya jika hanya berhenti pada jenjang sekolah dasar saja. Saya juga mencoba meyakinkan bahwa semua pengorbanan akan terbayar begitu Jelsi mencapai cita-citanya nanti. Mereka percaya.
“Bagaimanapun susahnya nanti, kami akan usahakan bagaimanapun Jelsi bisa melanjutkan sekolah,” kata ayahnya mantap. Besar sekali hati saya rasanya mendengar ayahnya berkata demikian. Ibu Jelsi kemudian mengeluhkan program beasiswa yang kadang tidak tepat sasaran bagi siswa SD. Jelsi tidak pernah mendapatkan beasiswa padahal ia dapat dikatakan hidup dalam keluarga kurang mampu dan berprestasi di kelasnya, sementara beberapa siswa lain yang hidup dalam keluarga cukup berada menerima bantuan beasiswa setiap bulan.
Setelah puas mengobrol, kami pun pamit kembali ke mushalla untuk bergabung dengan rekan-rekan relawan lainnya. Orangtua Jelsi memberikan kami satu kantong kentang hasil dari kebunnya, meskipun kami bersikeras menolaknya. Saya pulang dengan perasaan lega. Saya harap apapun yang keluar dari mulut kami akan menjadi semangat bagi orangtua Jelsi untuk menyekolahkan anak gadisnya setinggi mungkin. Saya tidak ingin melihat Jelsi harus putus sekolah dan menikah di usia sangat muda (hal ini umum sekali terjadi di daerah pedalaman-pedalaman Sumatera Barat). Karena semua orang, tak peduli dimana pun mereka berada berhak punya cita-cita dan berjuang mewujudkan cita-cita itu.
Hari terakhir sebelum kami kembali ke Padang, saya dan rekan-rekan relawan pun pamit dengan warga sekitar. Hasilnya mobil pick up pun penuh dengan hasil panen orangtua siswa yang mereka berikan kepada kami. Terharu sekali melihat bagaimana mereka begitu menghargai keberadaan kami. Kami kemudian berjalan kembali selama sekitar satu jam ke lokasi tempat truk terparkir. Di perjalanan, dari atas bukit saya mendengar nama saya dipanggil. Saya menoleh dan melihat Jelsi dan adiknya Yelda berlari menuruni bukit. Saya pun berlari menghampiri mereka. Ia bertanya pada saya mengapa saya pergi begitu cepat, kenapa tidak tinggal untuk seminggu lagi?
Saya cuma bisa menjawab kalau saya punya pekerjaan lain yang tidak bisa saya tinggalkan dan saya berjanji akan kembali lagi suatu saat nanti. Ia kemudian memeluk saya erat-erat. Sebelum berpisah saya meminta ia berjanji pada saya bahwa ia akan terus melanjutkan sekolahnya sampai ia benar-benar jadi guru. Ia menyetujui janji itu dalam satu anggukan pasti. Saya mencium keningnya dan berlari menyusul teman-teman lainnya yang sudah mendahului. Saya menoleh sedikit kebelakang, melambaikan tangan pada anak perempuan itu. Seorang guru masa depan. 

Sabtu, 12 Desember 2015

1000 Guru : Cita-cita Milik Semua

Sudah lama sekali rasanya saya ingin mendaftar menjadi relawan 1000 Guru. 1000 Guru adalah komunitas peduli pendidikan bagi anak-anak pedalaman dan perbatasan yang berbasis di Jakarta. Salah satu bentuk kegiatannya adalah traveling and teaching atau disingkat dengan TnT dimana para relawan diberikan kesempatan langsung untuk mengunjungi sekolah dasar di berbagai daerah pedalaman atau perbatasan untuk mengajar sekaligus berbagi inspirasi dengan anak-anak disana. Begitu komunitas ini dikabarkan akan berdiri di Sumatera Barat, saya segera mencari tahu perkembangannya. Saya mulai terhubung dengan beberapa calon relawan, namun dikarenakan kesibukan saya di kantor dan sedang bersiap untuk melaksanakan sebuah program pertukaran, saya hampir tidak pernah bisa meluangkan waktu untuk menghadiri pertemuan.
Barulah Desember 2015 akhirnya saya punya banyak waktu senggang. Begitu pendaftaran relawan dibuka untuk kegiatan TnT, saya segera mengisi formulir dan mengirimkannya pada panita. Senang sekali saya tidak perlu menunggu lama untuk bergabung karena beberapa minggu setelah saya mendaftar, nama saya tertera pada daftar relawan terpilih TnT 3 1000 Guru Sumatera Barat. Pada TnT 3 ini para relawan yang berjumlah 23 orang akan mendatangi sebuah sekolah di Kabupaten Solok yang pendidikannya dapat dikategorikan sangat memprihatinkan. Dari cerita yang saya dapat dari panitia, desa tempat sekolah ini berdiri terletak di perbukitan dan belum sama sekali terjamah oleh penerangan listrik, plus tingkat putus sekolahnya termasuk sangat tinggi. Saya cukup penasaran sebenarnya mengetahui masih ada daerah yang belum tersentuh penerangan di Sumatera Barat. Rasa penasaran ini membuat saya tidak sabar menanti hari H keberangkatan kami.
Hari yang ditunggu-tunggu tiba. Saya dan relawan lainnya berkumpul di Taman Budaya Kota Padang, tempat yang telah kami sepakati sebelumnya. Dengan menggunakan truk TNI, para relawan dan panitia bergerak menuju lokasi sekolah. Perjalanan diperkirakan akan memakan waktu selama empat jam. Kami sudah diminta untuk mempersiapkan banyak hal seperti sleeping bag, pakaian untuk daerah dingin, jas hujan dan penerangan pribadi karena lokasinya  berada di daerah pegunungan yang sudah pasti cuacanya tidak dapat diprediksi. Dan benar saja, yang kami takutkan terjadi. Di perjalanan menuju desa tiba-tiba truk yang kami tumpangi tiba-tiba slip. Kami seluruhnya harus turun dari truk untuk membantu mendorong bus keluar dari tanah yang berlumpur karena disiram gerimis. Satu jam berusaha mengeluarkan ban dari dalam lumpur sama sekali tidak membuahkan hasil, malah membuat roda truk semakin mendekati tepi jalan yang curam. Keputusan pun diambil, relawan perempuan dipersilahkan untuk lebih dahulu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, sementara bagi laki-laki tetap menunggu di lokasi, membantu mengeluarkan truk dari kubangan.
 the volunteers!

probably we need to start a diet
 pagi di Pakan Rabaa
Gerimis semakin menderas begitu beberapa warga datang ke lokasi. Dengan ikhlas mereka berusaha membantu mencarikan tanah kering dan kayu untuk membantu truk keluar dari kubangan. Upaya tidak sia-sia, selang berapa lama roda truk berhasil keluar. Meskipun begitu - jika kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan truk - besar kemungkinan hal yang sama akan terjadi lagi. Kami sepakat untuk meninggalkan truk di depan rumah warga dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Para relawan pun berjalan melewati jalan yang becek dalam pekatnya malam. Tak ada satupun cahaya lampu terpancar selain dari cahaya lampu senter di tangan kami yang gemetaran ditiup angin malam.
Barulah ketika jam tangan di pergelangan tangan kiri saya menunjukkan pukul setengah dua belas malam kami tiba mushalla desa yang akan kami jadikan tempat menginap malam itu. Mushalla itu tidak terlalu besar, hanya ada satu ruangan lapang dan dua kamar mandi yang masih berfungsi. Setelah briefing dalam keadaan gelap gulita karena penerangan yang terbatas, para relawan satu persatu mengeluarkan kantong tidur masing-masing, kemudian berbaris tidur diatas tikar plastik. Sayup-sayup mulai terdengar dengkuran demi dengkuran kelelahan. 

Tak ada suara deru mesin atau klakson kendaraan bermotor saat pagi membangunkan kami dari tidur. Yang ada hanyalah kabut tebal menyelimuti sebagian besar desa, udara dingin yang menusuk dan asap yang mulai mengepul dari tungku rumah-rumah kayu diatas bukit, pertanda kehidupan hari ini baru saja dimulai. Sambil menunggu antrian kamar mandi, saya dengan jaket tebal yang terpasang memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi desa. Sepanjang mata memandang terhampar kebun-kebun kubis, sawi, wortel, tomat, bawang dan sayur-sayuran lainnya diselingi oleh beberapa rumah kayu. Dari kejauhan saya melihat anak-anak dengan handuk berlari ke “kamar mandi” yang berada di depan rumahnya. Beberapa lainnya tampak mulai mengenakan seragam sekolah dengan pipi putih belepotan bedak. Sungguh pemandangan yang benar-benar mendamaikan.
Saya bertemu langsung dengan anak-anak itu di lapangan SD Negeri 11 Pakan Rabaa, Jorong Taratak Baru, Nagari Koto Laweh, Kecamatan Lembang Jaya beberapa jam setelahnya. Mulai tampak senyum-senyum malu di wajah mereka karena bertemu dengan orang-orang asing Beberapa dari mereka menggunakan sepatu, sementara sisanya hanya menggunakan sendal jepit. Sekolah yang mereka tempati hanya terdiri dari empat kelas, satu kelas dipakai untuk ruang guru, tiga sisanya dipakai untuk kegiatan belajar mengajar. Hanya dua orang guru yang bertugas mengajar sehingga siswa kelas satu dan kelas dua terpaksa digabung dalam satu kelas. Tidak ada kelas 4, 5, maupun 6. Jika ingin melanjutkan pendidikan ke kelas 4, maka siswa-siswa ini harus melanjutkannya di sekolah induk yang jaraknya cukup jauh dari desa mereka. Tapi anehnya, meskipun dilingkupi sekian banyak keterbatasan, tidak sedikitpun tampak kesedihan di wajah-wajah kecil mereka. Mata-mata berbinar dengan senyum mengembang itu serentak memperhatikan drone yang terbang diatas kepala mereka, sebelum upacara bendera.
Setelah Bendera Merah Putih berkibar di tiang halaman yang berbatas langsung dengan kebun kubis itu, para relawan dan adik-adik siswa SDN 11 Pakan Rabaa mulai berbaur dalam beberapa ice breaking. Kami berkenalan satu sama lain disusul gelak terpingkal-pingkal mengikuti permainan yang dipandu panitia. Kegiatan kemudian dilanjutkan di dalam kelas. Dua puluh tiga relawan disebar dalam tiga kelas dan saya ditempatkan di Kelas 3 bersama dengan enam orang teman relawan lainnya. Tidak perlu waktu yang lama bagi kami berkenalan dengan adik-adik. Semuanya tampak senang mengikuti kegiatan hari itu, meskipun hujan mengguyur deras dan beberapa menit sekali ada yang bertengkar dengan teman satu kelasnya. Menurut saya hal yang sangat wajar bagi anak seusia mereka agak sedikit nakal mengingat ketika kecil dulu saya juga termasuk anak yang susah diatur.
Kegiatan dalam kelas kami bagi dalam dua sesi yang diselang-selingi beberapa kali: belajar dan bermain. Materi yang kami sampaikan adalah mengenai cita-cita dan profesi. Hal yang amat membanggakan dari adik-adik Kelas 3 SDN 11 Pakan Rabaa ini adalah masing-masing mereka sudah punya cita-cita. Mereka sudah tau ingin jadi apa mereka kelak dan apa saja yang harus mereka lakukan. Beberapa anak ingin menjadi Polisi, karena ingin melindungi masyarakat dari orang jahat. Beberapa lainnya ingin menjadi guru karena ingin mengajar lebih banyak lagi siswa-siswa. Satu dua orang ingin menjadi dokter supaya nanti orang sakit tidak perlu jauh-jauh lagi berobat. Menggemaskan sekali melihat mereka menceritakan cita-cita yang telah terlebih dahulu ditulis di kertas yang telah kami sediakan. Sambil menikmati sarapan, kami para relawan terus mencoba membakar semangat adik-adik ini supaya senantiasa melanjutkan pendidikan mereka. Bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika kita selalu bekerja keras dan melakukan yang terbaik yang kita bisa. Hidup jauh dari hiruk pikuk perkotaan, tanpa penerangan listrik maupun sarana pendidikan yang memadai sama sekali bukan penghalang jika mereka punya niat yang kuat. Kami ingin senyum-senyum itu tak hanya berhenti saat baju merah putih dilepas. Kami ingin dua puluh tahun dari sekarang mereka telah berhasil mengenakan pakaian kebanggaan mereka masing-masing dengan senyum yang sama. 
Usai kelas, para panitia, relawan, guru-guru dan siswa-siswa SDN 11 Pakan Rabaa berkumpul dalam satu ruangan untuk makan siang bersama. Kegiatan ditutup dengan pembagian donasi berupa tas sekolah dan alat-alat tulis dari para relawan sekaligus penempelan Pohon Impian, dimana masing-masing anak menulis impian mereka di pohon yang ditempel di depan kelas mereka. Kami harap, pohon impian itu selalu menjadi pengingat bagi mereka bahwa mereka punya cita-cita yang harus diwujudkan. 
Pengalaman bersama 1000 Guru Sumbar adalah pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan bagi saya. Awalnya saya pikir bahwa saya mengorbankan sedikit Rupiah dan waktu yang saya punya untuk berbagi, sebagai bentuk rasa syukur saya terhadap apa yang telah Tuhan berikan pada saya selama ini. Namun ternyata berkorban bukanlah pilihan kata yang tepat karena apa yang saya terima malah jauh lebih besar daripada apa yang saya berikan. Saya mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan. Saya juga kini mendapatkan keluarga baru yang sangat menyenangkan. Sama halnya ketika saya berpikir bahwa saya datang kesana akan mengajarkan banyak hal pada anak-anak desa. Kenyataannya, saya malah diberkati dengan lebih banyak pelajaran-pelajaran hidup tentang ketulusan, kesabaran, kerja keras, dan yang paling penting adalah tentang bahagia tanpa peduli bagaimanapun keadaanya. Dari gelak tawa yang kami bagi saya belajar bahwa bahagia hakikatnya adalah sesuatu yang kita bawa di dalam diri kita, bukan sesuatu yang diciptakan oleh kondisi lingkungan sekitar. Karena dengan begitu, bagaimanapun keterbatasan dan sulitnya keadaan yang kita hadapi, tidak akan mengusik rasa bahagia di dalam dada. Terima kasih adik-adikku, sampai jumpa lagi.

 

Blog Template by