Sabtu, 09 Januari 2016

2015: a glimpse (1)

Menulis itu seperti bermain gitar. Jika kita absen cukup lama, tidak menyentuhnya sama sekali, kita akan kembali dengan perasaan yang  canggung. Itu yang saya rasakan saat kembali berhadapan dengan halaman kosong blog pagi ini. Saya hanya duduk menatapnya, menulis beberapa kalimat, kemudian kembali menghapus semuanya hingga kembali menjadi halaman kosong. 2015 adalah tahun dimana saya jarang sekali menulis. Saya memecahkan rekor tidak menyentuh Good Morning Freedom selama sembilan bulan - rekor terlama yang pernah saya raih sejak mulai menulis di blog ini tahun 2008. Meskipun begitu, 2015 telah menjadi tahun yang penuh kebahagiaan dimana beberapa mimpi-mimpi saya tidak berhenti menjadi angan saja.
2015 dibuka dengan keadaan yang tidak terlalu menyenangkan. Awal tahun saya adalah pribadi yang kacau dan berantakan diakibatkan masalah yang terlalu memalukan untuk diceritakan disini.  Semesta rasanya berkonspirasi untuk membuat saya tersungkur dengan wajah dahulu menabrak tanah. Tidak ada satupun usaha yang saya lakukan berjalan dengan baik. Sebuah novel yang saya tulis dengan sepenuh hati kembali sampai di pintu rumah saya dengan sepucuk surat penolakan dari penerbit favorit. Hal ini bahkan terjadi dua kali hingga saya pada saat itu berpikir kalau saya benar-benar tidak berbakat menulis. Saya kemudian membaca ulang novel saya, plotnya yang terkesan klise, ceritanya yang tidak up to date dan gaya menulis yang cenderung aneh memang bukanlah jenis tulisan yang diminati banyak orang. Tidak ada pasar untuk jenis tulisan seperti ini.  Terlalu cepat untuk menyerah sebenarnya,  mengingat novel best seller seperti The Help Katherine Stockett saja mengalami enam puluh kali penolakan sampai akhirnya diterbitkan. Namun keadaan saat itu mengakibatkan novel itu bersarang diatas lemari dan belum juga disentuh sampai sekarang.
Keadaan semakin memburuk ketika saya mulai merasakan nyeri punggung yang cukup parah sehingga saya harus bolak balik ke dokter dan berhenti dari olahraga yang sudah beberapa  tahun ini saya geluti. Meskipun sudah berobat ke banyak sekali dokter dengan serangkaian tes medis yang dilakukan, sampai sekarang dokter masih belum bisa menyimpulkan apa penyebab nyeri punggung itu. Bahkan satu dokter beranggapan sayan hanya menderita kecemasan dan meresepkan saya obat-obat anti depresan. Mungkin pendapat dokter ini ada benarnya juga. Sampai sekarang nyeri punggung itu masih sering datang, tapi sudah tidak terlalu mengganggu. Malah hal yang sangat mengganggu adalah bagaimana saya tidak bisa melanjutkan hobi yang beberapa tahun ini saya geluti.
Mungkin saya mengalami apa yang dikatakan banyak orang sebagai Quarter Life Crisis - jenis ketidakstabilan yang biasanya diderita oleh orang yang memasuki usia seperempat abad.  Rutinitas terasa kian membosankan dan meaningless, tiba-tiba kehilangan passion dan kepercayaan diri, merasa terperangkap dalam penyesalan bahwa sudah berjalan terlalu jauh kearah yang salah dan perasaan-perasaan negatif lainnya dengan masif menggerogoti. Setelah membicarakannya dengan beberapa teman sebaya yang dipercaya, saya lega ternyata bukan saya sendiri yang merasakan kegamangan seperti ini. Teman-teman saya yang sangat supportif itu malah memberikan saya sebuah pesta kejutan saat ulangtahun saya yang ke dua lima. Saya benar-benar bersyukur memiliki mereka.
Only when it’s dark enough you can see the stars. Kadang-kadang disaat terburuk itulah kita mengetahui kualitas terbaik yang kita miliki. Keisengan saya untuk scroll down home facebook di bulan Maret  menghantarkan saya pada sebuah pengalaman yang tidak akan bisa dilupakan. Salah seorang teman SMA saya mengshare tentang sebuah program prestisius yang diselenggarakan oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga sedang membuka seleksi delegasi di provinsi saya. Sebelum saya terlalu tua untuk segalanya, saya memutuskan untuk mengikuti seleksi ini. Dengan sabar saya mengikuti tahap demi tahap tes sampai akhirnya saya terpilih menjadi delegasi mewakili provinsi melaksanakan program internasional tersebut. Butuh waktu panjang mempersiapkan diri. Tiap akhir pekan selama empat bulan saya harus menempuh perjalanan 130 Km pulang pergi untuk menghadiri pre departure training. Anehnya saya sama sekali tidak pernah merasa terbebani. Menjadi wakil negara dalam program Internasional memang menjadi impian saya sejak kecil, saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Pada saat-saat ini, saya banyak berkenalan dengan orang-orang yang menginspirasi saya untuk menjadi versi terbaik yang saya bisa. Saya juga menemukan kualitas-kualitas terbaik dari diri saya yang selama ini tidak pernah saya sadari. 

4 blabla(s):

Nanda Qathi mengatakan...

This retrospective story just good enough for reminder.
mengutip kata Mas Pandji Pragiwaksono

"Kelak, api membesar dan membesar & menghangatkan.
Api itu kemudian membuat kita ditemukan.
Dengan orang orang lain yang sama sama mencari kehangatan.
Kemudian kita tak lagi sendirian"

Thanks fo share Hans :)

senjanajingga mengatakan...

wah wah.. sama Hans. Saya juga sedang berada di kondisi terburuk seumur hidup. Membuat saya berpikiran terlalu ke mana-mana. Kamu sakit punggung? saya sakit pinggang. Btw, soal buku kamu, mungkin bisa dipertimbangkan konsep indie publishing?? :D

Hans Febrian mengatakan...

nice line Nanda! :)

Icha, stay strong. this too shall pass. you survived till now, you'll survive again. :D
sama-sama sakit ya kita ini. Untuk buku pending dulu aja lah hahahaa :))

Velorina Tasha mengatakan...


Iam really impressed with your writing abilities and also with
the structure in your weblog. Is that this a paid subject matter or
did you customize it yourself? Anyway stay up the excellent high quality writing, it
is uncommon to peer a nice weblog like this
one these days..

Poker Online | Togel Singapura

 

Blog Template by