Sabtu, 16 Januari 2016

2015: a glimpse (2)

Things started to work out. Sebuah tulisan yang saya ikut sertakan dalam sebuah sayembara yang diselenggarakan sebuah kantor perwakilan Belanda di Indonesia juga masuk dalam nominasi pemenang. Meskipun tidak berhasil membawa saya mengikuti summer course, saya bersyukur bisa menjadi finalis dari ratusan tulisan yang masuk. Hidup adalah proses, tidak ada yang terjadi secara instan. Mungkin begitu juga dengan menulis. Secara tidak sadar semakin banyak kita menulis, semakin banyak pula kita belajar. Saya berharap suatu hari nanti setidaknya ada tulisan saya yang dibukukan hingga bisa dibaca banyak orang. Ini adalah satu dari bucket list hidup saya.
Bulan Oktober saya berangkat ke ibukota untuk mengikuti Pre Departure Training nasional. Disana saya bertemu dengan teman-teman delegasi dari seluruh Indonesia. Kami digodok selama hampir satu minggu untuk menjadi delegasi yang baik. Karena disana kami tak hanya membawa nama pribadi, tetapi juga garuda yang terpasang di peci kami. Usai training kami diberangkatkan ke Negara tetangga. Saya bisa katakan bahwa pengalaman ini merupakan salah satu pengalaman paling luar biasa yang pernah saya alami sepanjang hidup. Saya banyak sekali bertemu dengan orang-orang hebat yang menginspirasi saya untuk berhenti menjadi orang yang biasa saja. Saya bertemu dengan keluarga baru yang bahkan masih tetap bisa saya rasakan keberadaaannya meskipun kami telah kembali ke daerah asal masing-masing. Saya berkunjung ke tempat-tempat yang belum pernah saya datangi sebelumnya dan saya juga mendiscover kualitas-kualitas dalam diri saya yang selama ini tidak pernah sadari. Saya kaget ternyata saya bisa menari dengan baik dan akhirnya... saya tidak pernah lagi merasa gugup dihadapan orang banyak. Terima kasih tuhan untuk sebuah pengalaman yang sangat berharga ini.
2015 juga dilengkapi dengan perjalanan-perjalanan. Bersama seorang teman SMA, saya melakukan road trip menuju bagian selatan Sumatera. Saya selalu senang dengan perjalanan darat yang panjang, apalagi kami melewati jalan pesisir dengan pemandangan yang luar biasa.  Kesimpulan yang dapat saya ambil dari road trip ini adalah wilayah selatan Sumatera lingkungannya lebih terjaga daripada bagian utara (saya melakukan road trip yang sama ke bagian utara tiga tahun lalu). Rata-rata muara sungai yang kami lewati masih berair jernih, artinya bagian hulu sungai masih terjaga dengan baik. Pantai-pantai yang mempesona juga terhampar tanpa ada plastik-plastik sampah berserakan. Tidak berakhir disana, usai melaksanakan fase Indonesia di Solo dan Jogja, saya dan sahabat melakukan perjalanan ke Bandung. Saya menyempatkan diri mampir ke kampus yang sudah tiga tahun tidak saya lihat. Tidak banyak yang berubah selain apartemen bertingkat-tingkat yang berdiri di depannya dan dada saya yang tidak lagi berdebar-bebar memasuki gerbang. Senang juga akhirnya bisa bebas melenggang masuk tanpa seragam dan atributnya. 
Oh, di tahun 2015 saya juga banyak pergi berkencan. Kencan dalam arti sebenarnya: bertemu di suatu tempat dengan orang yang saya anggap menarik (dan mungkin juga menganggap saya menarik). Mengobrol, bertukar cerita, bertukar pikiran. Setiap orang seumpama sebuah buku. Mereka lengkap dengan paket cerita yang kadang-kadang akan membuatmu terkaget-kaget ditengahnya. Saya menyukai bertemu dengan orang-orang baru, mendengarkan kisah hidup mereka, juga kegembiraan dan kegelisahan mereka. Tidak ada aturan resmi yang mewajibkan kita menjalani hubungan yang serius dengan teman kencan, kan? Karena itu saya mengimani ide ini. Meskipun banyak membagi tawa dengan mereka, saya belum berniat untuk kembali menjalani hubungan yang lebih serius dari sekedar pertemanan. Mungkin bukan itu yang saya cari, setidaknya sampai saat ini. Saya masih gembira dengan kebebasan yang mengizinkan saya untuk tumbuh setinggi yang saya mau tanpa ada batasan-batasan yang mengikat.
Tahun 2015 ditutup dengan kesempatan untuk mengajar untuk anak-anak di pedalaman  Sumatra Barat. Saya mendaftarkan diri menjadi sukarelawan pada sebuah kegiatan yang berbasis pada peningkatan pendidikan anak-anak di pedalaman dan perbatasan. Saya berangkat mengajar ke sebuah desa di kaki gunung yang dingin sekali waktu pagi. Mungkin benar juga pepatah lama yang mengatakan bahwa kita bisa bahagia dengan membuat orang lain merasa bahagia. Itu yang saya rasakan saat bersama dengan adik-adik di kaki gunung. Melihat mereka tertawa gembira dengan tas sekolah yang baru membuat saya mengerti kalau bahagia kadang sederhana saja. Dalam hati saya berjanji jika tuhan memberikan banyak waktu untuk saya hidup di dunia, saya akan memberikan sebagian yang saya punya untuk menciptakan senyum sebanyak yang saya bisa.
Begitulah 2015 terlewati. Tidak sempurna, memang, tapi saya bersyukur untuk satu tahun yang penuh dengan cerita. Saya bersyukur untuk orang-orang yang datang (dan juga keluar) dari hidup saya, untuk pengalaman-pengalaman yang tidak terlupakan, untuk perjalanan-perjalanan yang mengangumkan dan kerikil-kerikil kecilnya yang menjadikan saya lebih kuat. Banyak sekali harapan saya untuk tahun 2016, jika saya tuliskan semua disini tentu akan menghabiskan berlembar-lembar halaman.  Saya akan sebutkan beberapa. Saya ingin menjadi lebih sehat dan sabar terhadap diri saya sendiri. Saya ingin  memberikan hidup yang lebih nyaman bagi kedua orangtua, serta melanjutkan pendidikan. Dan yang terakhir, saya ingin pindah ke kota yang lebih besar dan melakukan perjalanan lebih jauh lagi. Amin untuk itu semua.  
Semoga tahun ini kita semua dapat mewujudkan mimpi-mimpi dan diberkati dengan lebih banyak kebahagiaan. Selamat Tahun Baru 2016!

2 blabla(s):

George Dewillyam mengatakan...

Ameen for all your wish...
May God listening and give it all for you....
I can't speak english so well,but always try it!
Wish it will be good and better someday...
Congratulation Kak Hans, for your excelent year. Together we wish for better year. Just wanna see you and share about life with inspiring people like you. Maybe someday God will give the time.*waiting for that day... hehehehe...
Oya, whenever you have a time, please visit my hometown. Wonosobo regency in Central Java province. I wanna hear your opinion about that heaven...*_*.
Ok! Keep spirit and Succes....!!!!!!

Hans Febrian mengatakan...

thank you, George!

 

Blog Template by