Sabtu, 13 Februari 2016

Bonjour, Le Petit Paris! (3)

 Baca bagian sebelumnya disini
Informasi yang saya dapat dari petugas bis Phuong Trang, perjalanan dari Ho Chi Minh City ke Dalat akan ditempuh selama delapan jam perjalanan. Dengan begitu kemungkinan saya sampai di Ibukota Provinsi Lam Dong itu pukul delapan pagi, atau selambat-lambatnya pukul sembilan. Begitu lampu warna-warni ala diskotik dimatikan oleh supir bus, saya tertidur pulas. Entah karena saya kecapekan atau karena perjalanan yang mulus, dalam perjalanan saya hanya terbangun dua kali saja. Pertama, jam 2 pagi. Bis berhenti di sebuah mini market di sebuah kota yang tidak saya ketahui.  Saya mencoba mengaktifkan google map, namun sepertinya signal tidak terlalu bagus. Seluruh penumpang turun dari atas bus. Masing-masing kami diizinkan mengambil sepasang sendal jepit yang disediakan di dalam keranjang. Beberapa penumpang memilih untuk menghisap rokok di samping bus, sisanya ada yang berbelanja makanan ringan dan menuju toilet di belakang minimarket, doing business. Saya yang sejak awal memang kebelet buang air kecil langsung menuju toilet bersama Rama. 
Meski belum bisa dikategorikan super tangguh, saya biasanya mampu menghadapi tantangan demi tantangan di perjalanan seperti berdesak-desakan di kereta ekonomi atau mengendalikan diri agar tidak cepat panik ketika kesasar. Saya juga bisa tidur dimana saja. Hanya ada satu hal yang belum bisa saya lakukan sampai saat ini: berdamai dengan toilet yang jorok. Begitu sampai di pintu toilet, saya ditampar dengan bau pesing menyengat. Menuju kloset saya disuguhi kerak kekuning-kuningan yang menjalar dari lantai sampai ke dinding. Belum lagi “watermark” yang khas membuat saya terpaksa menahan napas dan memicingkan mata selama beberapa puluh detik. Setelah menyiram kloset (masih dengan mata tertutup), saya secepatnya lari keluar dan bernapas. Untung saja saya cuma kebelet pipis ya. Saya sering heran, kenapa bagi sebagian orang susah sekali menyiram produksi dalam negeri mereka di toilet umum, bahkan saat disana airnya melimpah sekalipun.
Selanjutnya tau-tau saya terbangun saat bus sudah berhenti di terminal yang lebar dan bersih dibawah bukit, Dalat. Jam di pergelangan tangan kiri saya menunjukkan pukul enam pagi. Dua jam lebih cepat dari yang diperkirakan. Suasana masih gelap, kabut tebal menyelimuti kota yang benar-benar dingin. Kabut tipis juga keluar dari mulut ketika saya menghembuskan nafas. Kami keluar dari bus sambil mengangkat backpack masing-masing, siap untuk melanjutkan perjalanan. Hal yang menyenangkan dari bus Phuong Trang adalah tiket yang kita bayar sudah termasuk segala fasilitas untuk sampai di depan pintu tempat tujuan. Dari pool bus, kami menaiki sebuah mini van yang disupiri seorang bapak-bapak paruh baya. Begitu ditanya akan diantar kemana, barulah saya dan teman-teman kebingungan. Kami memang belum punya rencana akan menginap dimana. Saya langsung menyebutkan salah satu nama hostel dengan harga termurah yang berhasil saya googling saat kami istirahat di Sam Kang. Supir mengangguk dan mobil tumpangan kami itu melaju dengan kecepatan tinggi melewati hutan-hutan pinus dan tepian danau dengan rumah-rumah bergaya perancis. Suasana pagi yang benar-benar mendamaikan bagi saya.
Ternyata hostel yang kami tuju jaraknya agak jauh dari pusat kota yang berlokasi di pinggir danau, pantas saja harganya murah. Kami langsung berembuk begitu mini van Phuong Trang menyelesaikan kewajibannya dan meninggalkan kami dengan backpack yang berbaris diatas trotoar. Kesepakatannya, kami berjalan kaki menuju pusat kota dan mencari hostel disekitar sana. Setengah jam kemudian kami telah sampai di pusat kota, menikmati Dalat di pagi hari. Konturnya yang berbukit-bukit menjadikan perumahan seolah bertingkat-tingkat. Ruko-ruko bergaya Perancis berbaris rapi di sisi jalan. Kesibukan mulai terlihat seiring bunyi berderak dari pintu ruko yang terbuka. Sepeda motor dengan keranjang besar berisi buah-buahan mulai berlalu lalang. Anak-anak berseragam dengan sepatu dan tas yang nyaris sama mulai berlari-lari ke sekolah. Suasana Perancis jadi semakin terasa ketika warung-warung baguette terbuka mengajak untuk sarapan. Tidak salah sepertinya kalau kota ini digelari Le Petit Paris alias Little Paris
Misi utama kami adalah menemukan hostel dengan harga nyaman di kantong. Beberapa kali kami keluar masuk hostel maupun hotel dengan gelengan kepala sampai kami setuju dengan harga miring yang ditawarkan oleh Hoan Hy Joy Hotel. Setelah menaruh semua barang bawaan di kamar, kami turun untuk sarapan dan rapat dadakan mengenai kelangsungan hidup di Dalat. Saya mengeluarkan buku catatan kusam berisi rekomendasi tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi. Rencana awal, kami akan menyewa sepeda motor dan berkeliling. Joe mengusulkan untuk rental mobil namun karena kami sama sekali belum punya gambaran mengenai kota ini - terlebih mobil di Vietnam setirnya di sebelah kiri - tentu tidak butuh waktu lama bagi kami untuk menabrak tukang bunga. Usul ini perlu dipertimbangkan kembali. Usul lain adalah jalan-jalan menggunakan xe om, alias ojek. Tidak efisien kalau dilihat dari segi biaya. Tukang xe om pasti akan menawarkan harga yang tinggi karena tak satupun dari kami yang bisa menawar dengan bahasa Vietnam.
Disaat kami bertiga kebingungan di depan Pho panas dan secangkir kopi Vietnam itu, Roni turun dari kamar membawa selembar brosur paket tur yang ia dapat dari resepsionis. One day tour around Dalat dengan beberapa pilihan menarik. Harganya juga cukup ramah di kantong. Seumur hidup saya belum pernah sama sekali ikut paket tur, jadi bagi saya tidak ada salahnya mencoba. Rama mengangguk setuju. Joe juga.
to be continued

4 blabla(s):

George Dewillyam mengatakan...

Waahhhh, pengalaman menarik.....
Ditunggu update-tannya kak..... ^_^

Gloria Putri mengatakan...

Ta pikir cm di Indonesia aja.yg toilet umumnya pesing.....di sono jg yaaaaa.......enak y hans klo masih single masih bs jalan jalan jauh......enjoy ur life,Hans.....

Ran mengatakan...

Wih blognya keren.
Belum pernah ke vietnam, tapi baca ini jadi penasaran.
Di sana makanannya pedes-pedes yak?
Denger-denger sih gitu. Nggak suka makanan pedes :D

senjanaavonturir mengatakan...

Ditunggu kelanjutannya, Hans...!!

 

Blog Template by