Minggu, 22 April 2018

Tulisan pertama, sejak sekian lama.

Hai.
Kikuk sekali rasanya kembali ke tempat ini setelah dua tahun tidak berkunjung. 
Saya bingung harus mulai dari mana. 
Hari ini hari minggu, jam setengah enam sore. Kota ini sedang cantik-cantiknya. Sinar matahari masuk menimpa laptop saya dari jendela. Hangat, menyenangkan. Di sampingnya sebuah buku catatan kecil berwarna oranye dan sebuah es kopi sudah siap sedia menemani.
Saat ini saya sedang duduk di bangku pojok sebuah kedai kopi waralaba, menghadap langsung ke jalan raya yang sibuk dengan kendaraan berlalu lalang. Harga kopi di sini sebenarnya agak terlalu mahal untuk saya. Tapi tidak apa-apa, kali ini saya butuh tempat yang menyenangkan untuk kembali menulis - seperti yang biasa saya lakukan pada akhir pekan bertahun-tahun yang lalu. Agak mengerikan ya bagaimana waktu berjalan. Saya ingat betul saat pertama kali menulis di blog ini sepuluh tahun yang lalu, saya masih seorang remaja belasan tahun dengan kegamangan bagaimana hidup kedepannya setelah lulus dari SMA. Sekarang si remaja gamang itu sudah masuk usia akhir dua puluhan. Sudah tidak gamang lagi. Tapi masih suka khawatir, kadang-kadang. 
Dua tahun tidak menulis, banyak sekali letupan-letupan yang terjadi dalam hidup saya, hingga bingung juga hendak mulai dari mana. Akhir 2016 saya dengan segenap hati sudah memutuskan bahwa pekerjaan saya sebelumnya bukan untuk saya lagi. Bekerja di sebuah kantor pemerintahan di daerah cukup terpencil di Sumatera memang jauh dari tekanan, namun saya selalu merasa ada yang mengganjal. Ada yang tidak pada tempatnya. Bukan berarti saya memandang rendah pekerjaan saya di tempat sebelumnya, namun kita harus pahami kalau masing-masing kita memiliki panggilan masing-masing. Berada di sana bukan lah panggilan saya, karena itu saya memutuskan untuk pergi meninggalkan semua kenyamanan, termasuk meninggalkan orangtua yang meskipun kerap kali berselisih paham namun selalu percaya dengan mimpi-mimpi saya.
Dengan kondisi finansial seadanya, saya memutuskan untuk hijrah ke kota yang kerap disebut kota kejam kesayangan bagi sebagian orang, bercampur aduk dengan sepuluh juta manusia lainnya untuk menulis cerita baru, untuk mewujudkan mimpi-mimpi baru dan bertemu orang-orang baru. Beruntung setelah proses hampir satu tahun, saya diterima untuk bekerja di sebuah kantor yang telah saya impi-impikan sejak lama. Tidak bisa saya deskripsikan betapa gembiranya perasaan saya di hari pertama menjinjing tas ke kantor. Saya di tempatkan di lantai tujuh belas, dengan meja kerja menghadap langsung ke jendela, di mana saya bisa menikmati pergantian senja hampir setiap harinya. Saya berkenalan dengan rekan-rekan kerja yang dengan bangga kini saya sebut keluarga. Mereka yang membuat saya betah berada di kantor dengan beban kerja berlipat-lipat dari kantor sebelumnya. Jungkir balik hampir setiap hari, jarang sekali bisa pulang saat matahari masih bersinar, namun demikianlah pilihan yang telah saya ambil, satu paket dengan suka dukanya. Disini saya menyadari sesuatu : hal yang paling berat bukanlah memilih, namun setia pada pilihan.
Saya menyewa sebuah kamar kontrakan di lantai tiga sebuah lingkungan yang tenang di pusat kota. Kamar saya berhadapan langsung dengan tangga utama. Kamarnya tidak terlalu besar, cukup untuk saya sendiri, namun harganya cukup menguras kantong dan pengap karena tidak ada jendela. Ada dapur yang bisa digunakan bersama di lantai paling atas. Ada juga tempat menjemur pakaian yang bisa digunakan untuk santai sore di atap, biasanya penghuni akan duduk-duduk sambil merokok di sana sebelum malam tiba. Di depan kontrakan berdiri berdampingan sebuah gereja dan masjid. Pusat kesehatan masyarakat bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Saya menyukai sungai yang mengalir di sampingnya, meskipun tidak jernih tapi bersih tanpa sampah. Setiap pagi sebelum berangkat ke kantor, saya berpapasan dengan dua orang biarawati di pinggir sungai. Satu orang yang sudah berusia lanjut duduk di kursi roda dan seorang lagi yang jauh lebih muda menemaninya. Keduanya dengan khusyuk memandangi aliran sungai. Sayangnya, beberapa waktu kemudian saya memutuskan untuk pindah ke kamar kontrakan lainnya yang harganya lebih murah dan jendelanya lebar-lebar.
Banyak sekali sebenarnya yang ingin saya ceritakan, namun karena hari ini hari minggu dan besok tentu saja - sebagai lelaki usia dewasa yang kakinya sudah diikat dengan tanggungjawab - saya harus kembali dalam rutinitas pekerjaan. Saya akan lanjutkan nanti. Mudah-mudahan, saya bisa meluangkan lebih banyak waktu untuk menulis dan semoga Good Morning Freedom akan kembali hidup seperti beberapa tahun yang lalu. Dengan pembacanya yang mungkin tak banyak, namun saya tahu, begitu setia.
Saya kembali dan saya merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Saya harap kamu pun begitu. Semoga minggu ini terlewati dengan menyenangkan dan banyak kebaikan-kebaikan yang tak sungkan datang. Jangan lupa bergembira!
PS. Karena Photobucket memutuskan menjadi hosting berbayar, beberapa part dari Good Morning Freedom menjadi berantakan. Nanti jika ada waktu, saya akan rapih-rapih. Sekalian merapikan konten-konten lama yang agak memalukan dan tidak lagi sesuai umur, haha.

2 blabla(s):

Galih Putri W. mengatakan...

akhirnyaaaaaaa blog ini hidup lagi

Onixtin Sianturi mengatakan...

Haduh, walopun udah lama ga ngepost, tulisannya tetep sukak! keep writing kak Hans :)

 

Blog Template by