Sabtu, 16 Juni 2018

Sedikit cerita Idul Fitri

Setelah sebulan berpuasa, hari yang ditunggu tiba jua. Hari kemenangan dirayakan dengan gegap gempita. Meja-meja dijubeli dengan toples berisi kue warna-warni beragam rasa. Rumah dibersihkan, karpet-karpet dibentangkan, dinding-dinding dicat kembali, harum berbagai hidangan meruap-ruap dari dapur. Seminggu sebelum lebaran, mall-mall dipenuhi oleh ribuan orang berbelanja kebutuhan lebaran. Semua sibuk memilih baju-baju terbaik untuk dipakai di hari fitri. Teman-teman sesama perantau sibuk mengemas koper-koper dengan oleh-oleh untuk orang terkasih di kampung halaman. Sudah terbayang indahnya menghabiskan waktu dengan keluarga setelah sekian lama hidup dalam kamar kontrakan pengap di perantauan. 
Berbeda dengan tahun sebelumnya, tahun ini saya memilih untuk berlebaran di Jakarta. Saya sudah curi start duluan dengan mengambil jatah cuti tahunan di pertengahan bulan Ramadhan untuk mengunjungi kedua orang tua di kota kecil pulau Sumatera sana. Adik-adik juga berpikir hal yang sama, bagaimana jika tahun ini kita berkumpul di Jakarta saja - yang letaknya ditengah-tengah domisili orangtua dan adik perempuan terakhir saya. Semua setuju, semua gembira dengan keputusan itu. Saya dan adik segera membelikan tiket untuk kedua orangtua, yang tentu saja jauh lebih murah karena melawan arus mudik. Ketika semua orang memutuskan pulang ke kampung halaman, orangtua saya malah melancong ke kota perantauan anak-anaknya.
Saya menyadari dari dulu bahwa dewasa diam-diam akan memisahkan keluarga. Anak-anak akan lepas dari orangtuanya. Saudara kandung akan tinggal berjauh-jauhan. Bahkan saya dan adik yang tinggal di kota sama pun jarang bertemu karena masing-masing telah diikat oleh tanggungjawab dan kewajiban masing-masing untuk dapat melanjutkan hidup dengan layak. Akhirnya di hari bahagia ini, semua berkumpul kembali di satu atap, berbagi tawa lagi seperti belasan tahun lalu. Mama, seperti biasa memasak untuk kami sekeluarga. Pagi-pagi sekali di hari lebaran, semua bangun dengan semangat, mengenakan pakaian serba putih – siap untuk shalat Idul Fitri. Soto Medan yang nikmat telah terhidang di meja makan segera mengisi perut yang sebulan penuh telah berjuang menahan lapar.
Beruntung sekali rasanya tahun ini tidak perlu berurusan dengan pertanyaan basa-basi langganan yang senantiasa membuat bingung “Kapan nikah?” Saya terbebas dari kewajiban untuk membalasnya dengan senyum simpul sambil berkata “Doain saja,” walau dalam hati sebenarnya bertanya-tanya kenapa semua orang berpersepsi bahwa hidupmu tak akan komplit tanpa seseorang disamping kamu. Kewajiban tahun ini berganti menjadi mengajak orangtua tercinta bertamasya. Permintaannya tidak muluk-muluk, hanya ingin diajak piknik ke Kebun Raya. Berangkatlah kami sekeluarga bertamasya.  sepanjang jalan mengobrol banyak hal satu dengan lainnya. Tertawa-tawa dengan hal-hal kecil yang terjadi. Dalam hati saya begitu merindukan saat-saat seperti ini - yang kini hanya terjadi setahun sekali. 
Mama begitu bersemangat. Mobil penuh dengan camilan-camilan yang sengaja ia bawa untuk menemani piknik. Sedari dulu mama memang hanya mau diajak bertamasya ke tempat yang pohon-pohonnya rindang dan banyak bunga-bunga. Berbeda sekali saat diajak berkeliling pusat perbelanjaan yang baru dua blok, ia akan mengeluh kakinya sakit, di Kebun Raya dengan riang ia berjalan kesana kemari, menikmati rindangnya pepohonan dan memperhatikan bunga-bunga dengan seksama. Bahkan ketika yang lain sudah kelelahan, mama masih punya energi lebih untuk melihat-lihat kebun anggrek. Tidak ada yang lebih membahagiakan di dunia ini dari membuat orangtuamu yang kasihnya tiada batas, bergembira. 
Malamnya mama tertidur pulas di samping adik, hingga dengkurannya terdengar di ruang keluarga di mana papa tengah berselonjor. Matanya tidak berkedip menyaksikan siaran piala dunia, tim kesayangannya Argentina melawan Islandia. Saya duduk di meja makan, menulis sambil sesekali memperhatikan tayangan di televisi. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saya mendapatkan sebuah epiphany. Saya merasakan sensasi unik dan kesadaran penuh tentang keberadaan saat ini, bernapas perlahan seperti jutaan manusia dengan kehidupan berbeda di permukaan bumi. Saya duduk di bangku meja makan menyaksikan semua berjalan detik demi detik. 
Waktu tidak akan pernah berjalan mundur, cepat atau lambat, keberadaan ini akan menjadi ketiadaan. Kita tidak pernah benar-benar tahu kemana kita pergi setelah ketiadaan menyentuh kita. Karena itu saya memilih untuk duduk, menikmati pergantian detik yang berlangsung. Mata saya memandang lekat-lekat Papa yang matanya masih tak berkedip dari jalannya pertandingan. Suara dengkuran halus Mama sayup-sayup terdengar berdampingan dengan musik yang saya setel di laptop. Betapa saya sangat mengasihi mereka. Betapa jika saya diizinkan untuk membingkai sebuah momen untuk disimpan, tanpa ragu saya akan memilih saat-saat seperti ini untuk selalu lekat dalam ingatan. 
Kemudian, malam ini ditutup saat lampu dimatikan. Saya terlebih dahulu mendaratkan sebuah ciuman di pipi Mama. 
Selamat Idul Fitri.

 

Blog Template by